Karena itu, Gema menilai tidak tepat apabila potongan pernyataan tersebut kemudian dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa Presiden Prabowo menganggap pendidikan atau sekolah tidak penting dalam membentuk kecerdasan seseorang.
“Jangan dipotong lalu kemudian dijadikan sebuah referensi bahwa Pak Presiden bilang sekolah itu tidak membuat orang cerdas. Ini penyesatan karena konteksnya apa,” tegasnya.
Kritik Boleh, tetapi Jangan Pelintir Konteks
Gema menegaskan masyarakat memiliki hak untuk menyukai maupun tidak menyukai Prabowo. Namun, menurutnya, perbedaan sikap politik tidak seharusnya membuat sebuah pernyataan kehilangan konteks.
“Kamu boleh enggak suka Bapak Prabowo, itu hakmu. Tetapi jangan sampai konteksnya dipelintir, akhirnya satu Indonesia kena semua. Nah, ini yang berbahaya,” katanya.
Ia menilai polemik tersebut menunjukkan pentingnya masyarakat membaca dan memahami pernyataan pejabat publik secara utuh sebelum menarik kesimpulan.
Gema juga memberikan masukan kepada Presiden agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di tengah kondisi masyarakat yang menurutnya mudah terpengaruh oleh potongan informasi.
“Menurut saya, mungkin acara-acara seperti ini Presiden bisa memberikan statement yang normatif saja,” ujarnya.
Gema berpandangan, pernyataan Presiden yang sebenarnya memiliki konteks dan argumentasi tertentu dapat dengan mudah dipotong atau ditafsirkan berbeda ketika beredar di ruang publik.
“Setiap kali Pak Presiden bicara, nalar logika yang benar pun bisa dipelintir,” pungkasnya.



