JAKARTA, HOLOPIS.COM – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan bertanggung jawab atas insiden dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa usai mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Semarang, Jawa Tengah.
Ia menegaskan peristiwa tersebut tidak boleh terulang dan memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Pernyataan itu disampaikan Sudaryono usai menjenguk salah seorang korban, Diandra atau Naya, siswi kelas XII yang menjalani perawatan di RS Permata Medika Semarang, Sabtu (1/8/2026).
Dalam keterangannya, Sudaryono mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Menurutnya, program yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia tidak boleh justru menimbulkan musibah.
“Hari ini, di RS Permata Medika Semarang, saya menjenguk ananda Diandra (Naya), siswi kelas 12 yang terdampak masalah kesehatan usai mengonsumsi MBG. Hati saya terketuk. Negara berniat memberikan gizi yang aman, namun celah kelalaian telah mengubah niat baik itu menjadi musibah,” ujar Sudaryono.
Ia menegaskan, sebagai Kepala BGN dirinya mengambil alih tanggung jawab atas insiden tersebut. Sembari ia berjanji akan memaksimalkan proses evaluasi menyeluruh agar tak ada lagi kasus keracunan MBG usai insiden di Semarang itu.
“Sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, saya mengambil alih tanggung jawab. Kejadian ini harus menjadi insiden terakhir. Pantang bagi sebuah program negara justru menyusahkan rakyatnya,” katanya.
Sudaryono mengungkapkan BGN kini sedang melakukan evaluasi total terhadap seluruh standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, pembenahan dilakukan agar makanan yang disalurkan kepada para siswa tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga benar-benar aman untuk dikonsumsi.
“Saat ini, seluruh Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan sedang kami evaluasi dan rombak total. Kita pastikan ke depan, makanan untuk anak-anak kita tidak hanya wajib bergizi, tetapi harus mutlak aman dan enak dikonsumsi,” tegasnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Sudaryono juga menyatakan akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban menggunakan dana pribadinya.
“Sebagai bentuk komitmen moral, seluruh biaya perawatan Naya dan teman-temannya sepenuhnya saya tanggung menggunakan dana pribadi,” ujarnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada tenaga medis yang menangani para korban serta menyampaikan permohonan maaf kepada Naya dan keluarganya.
“Terima kasih kepada tim medis yang sigap. Teruntuk Naya dan sang kakek, Bapak Mustari—yang ternyata sesama sedulur asal Grobogan—saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Lekaslah pulih, Naya. Negara terus berbenah demi kalian,” ucap Sudaryono.


