HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf) kini tidak lagi sekadar mendengungkan isu keberlanjutan biasa, melainkan mulai tancap gas mengawal era baru ekonomi restoratif yang aktif memulihkan alam.
Langkah konkret tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, saat menghadiri Kunstkring Dialogue, Forum Diskusi Ekonomi Restoratif 2026 di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Jumat (26/6).
Acara bertajuk “Ekonomi Asik: Membangun Ekonomi Restoratif Melalui Alam, Sejarah, Imajinasi, dan Kolaborasi” ini mempertemukan berbagai lintas sektor untuk merumuskan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih hijau.
Dalam forum tersebut, Irene Umar secara gamblang membedah formula “ASIK” sebagai kerangka kerja yang mampu mengembalikan bangsa pada akar kekuatan aslinya.
Menurut Irene, alam dan sejarah adalah kode sumber asli masyarakat Indonesia yang harus terus dijaga agar tidak punah digilas zaman.
Ia meyakini bahwa keunikan nilai jual utama ekonomi kreatif tanah air sejatinya bertumpu pada kedalaman sejarah dan warisan budaya lokal tersebut.
Lebih lanjut, Irene menjelaskan bahwa konsep restoratif merupakan evolusi nyata yang posisinya berada satu langkah di depan gerakan keberlanjutan konvensional.
Peran industri kreatif di sini adalah merajut seluruh rantai nilai, mulai dari proses produksi ramah lingkungan, pengemasan, hingga strategi pemasaran yang jujur kepada konsumen.
Senada dengan gagasan tersebut, Business Director Conservana, Eka Maulana Nugraha Putra, menilai konsep “ASIK” sangat logis untuk diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.
Eka mengamati banyak wilayah di pelosok negeri yang telah sukses berkolaborasi dengan menonjolkan keunikan sejarah serta keindahan alam lokal tanpa batas ruang.
Ia menekankan bahwa esensi dari ekonomi restoratif adalah bagaimana caranya mendulang keuntungan finansial tanpa merusak ekosistem yang menjadi sumber kehidupan itu sendiri.
Bagi Eka, Indonesia tidak pernah kekurangan daya imajinasi, sehingga praktik eksploitasi alam yang berlebihan harus segera digantikan oleh kolaborasi kreatif.
Pertemuan ini juga menarik perhatian publik karena dihadiri oleh sejumlah figur penting, termasuk Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan.
Sederet tokoh penggerak lokal seperti Michella Irawan, Hulda Nenogasu, Singgih S. Kartono, hingga Aiya Lee turut membagikan perspektif mereka dalam sesi diskusi panel.
Diskusi hangat di Kunstkring Paleis ini akhirnya menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi lintas sektor siap menggeser paradigma ekonomi lama menuju masa depan Indonesia yang restoratif.



