Pengamat Dorong Tarif Transjabodetabek Disesuaikan, Usul Ada Skema Khusus untuk Pekerja Bandara

0 Shares

JAKARTA – Wacana penyesuaian tarif layanan Transjabodetabek kembali mengemuka seiring meningkatnya jangkauan layanan transportasi publik lintas wilayah. Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai tarif flat Rp3.500 yang selama ini berlaku sudah perlu dievaluasi, terutama untuk rute-rute jarak jauh yang menghubungkan Jakarta dengan kota penyangga hingga Bandara Soekarno-Hatta.

Menurut Deddy, skema tarif saat ini belum mencerminkan jarak tempuh dan biaya operasional layanan yang terus berkembang. Ia mencontohkan sejumlah rute Transjabodetabek yang memiliki panjang perjalanan puluhan kilometer namun masih dikenakan tarif yang sama dengan rute-rute perkotaan.

“Kalau Rp 3.500 untuk Transjabodetabek itu memang terlalu murah. KRL saja kalau Bogor – Manggarai Rp6.000, Depok – Manggarai Rp5.000. Makanya kalau Rp3.500 sangat-sangat murah. Paling tidak harganya kompetitif dengan KRL,” ujar Deddy kepada wartawan di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Meski demikian, Deddy mengingatkan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak terburu-buru dalam menetapkan tarif baru. Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih menghadapi berbagai tekanan sehingga penyesuaian tarif harus didasarkan pada kajian kemampuan dan kemauan membayar pengguna.

“Ini sedang krisis ekonomi. BBM naik walaupun Pertalite aman, tapi yang lain naik. Minyak goreng naik, beras naik, jangan sampai kenaikan tarif ini tambah membebani masyarakat. Menurut saya penyesuaian tarif tidak masalah, hanya perlu hati-hati soal penetapan tarif,” katanya.

Sorotan khusus diberikan Deddy terhadap rute Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta yang sejak beroperasi pada Maret 2026 terus mencatat peningkatan jumlah penumpang. Dengan panjang lintasan mencapai sekitar 65 kilometer, ia menilai tarif Rp3.500 saat ini terlalu rendah dibandingkan layanan yang diberikan.

- Advertisement -

“Kalau pengguna pesawat, tarif Rp10.000 sampai Rp15.000 masih sangat murah dan terjangkau. Tiket pesawat saja bisa jutaan rupiah, masa feeder ke bandara hanya Rp3.500?” ujarnya.

Namun, Deddy meminta agar pemerintah tidak menyamaratakan tarif bagi seluruh pengguna rute menuju bandara. Ia mengusulkan adanya skema tarif khusus bagi para pekerja Bandara Soekarno-Hatta yang setiap hari menggunakan layanan tersebut untuk berangkat dan pulang bekerja.

Menurutnya, kawasan bandara tidak hanya melayani penumpang pesawat, tetapi juga menjadi pusat aktivitas puluhan ribu pekerja dari berbagai sektor, mulai dari pegawai operasional, restoran, toko hingga layanan pendukung lainnya.

“Kalau untuk pegawai kerja di bandara, pegawai toko, restoran, mungkin dengan tarif Rp10.000-Rp15.000 itu masih relatif mahal. Jadi khusus untuk bandara mungkin perlu disediakan tiket khusus bagi mereka pekerja bandara,” katanya.

Deddy memperkirakan jumlah pekerja yang beraktivitas di kawasan Bandara Soekarno-Hatta mencapai sekitar 50 ribu orang. Sebagian besar masih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, sehingga berkontribusi terhadap kemacetan di sekitar kawasan bandara.

“Yang kerja di Bandara Soetta itu kurang lebih 50 ribu orang. Bukan pegawai Angkasa Pura saja, tetapi pegawai restoran, toko-toko dan layanan lainnya. Kalau 40 ribu saja mereka menggunakan motor, makanya di sana macet sekali. Ada ribuan orang parkir motor di kawasan bandara,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan layanan Transjabodetabek menuju Bandara Soekarno-Hatta seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendorong perpindahan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi massal. Selain mengurangi kemacetan, langkah tersebut juga dinilai mampu menekan konsumsi bahan bakar dan risiko kecelakaan lalu lintas.

“Kalau mereka beralih ke transportasi umum, kemacetan bisa berkurang, penggunaan BBM subsidi juga berkurang, dan angka kecelakaan bisa ditekan. Karena itu yang perlu diincar sebenarnya adalah para pekerja bandara,” tutur Deddy.

Ia berharap setiap kebijakan penyesuaian tarif yang akan diambil Pemprov DKI Jakarta tetap mempertimbangkan keseimbangan antara keberlanjutan layanan transportasi publik dan daya beli masyarakat, sehingga tujuan meningkatkan penggunaan angkutan umum dapat tercapai tanpa menambah beban pengguna.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU