Sulit Diselamatkan Lagi, Danantara Beri Sinyal PT INTI Akan Ditutup!

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COMPT INTI dikabarkan terancam ditutup Danantara setelah bertahun-tahun bermasalah dan dinilai makin sulit diselamatkan.

Kabar mengejutkan datang dari dunia BUMN.

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI, perusahaan telekomunikasi legendaris milik negara, kini berada di ambang penutupan setelah Danantara memberi sinyal kuat bahwa perusahaan tersebut sulit diselamatkan.

Pernyataan yang langsung bikin geger itu disampaikan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, saat berbicara dalam Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta.

Dalam forum tersebut, Dony menyinggung banyaknya BUMN yang selama ini mengalami masalah serius akibat pola pengelolaan yang berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi dan dukungan antarlembaga negara.

Di tengah penjelasannya, Dony secara terbuka menyebut nama PT INTI sebagai salah satu BUMN yang kini menghadapi situasi berat.

- Advertisement -

“Mungkin kita mengenal dulu banyak BUMN-BUMN terkenal, kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal sekarang menghadapi permasalahan mungkin akan kita tutup juga,” ujar Dony.

Ucapan itu langsung memicu kehebohan. Pasalnya, PT INTI bukan perusahaan biasa.

BUMN yang berdiri sejak 30 Desember 1974 itu pernah menjadi simbol kejayaan industri telekomunikasi nasional.

Selama puluhan tahun, PT INTI dikenal sebagai tulang punggung pengembangan infrastruktur telekomunikasi Indonesia.

Perusahaan ini pernah berada di garis depan dalam penyediaan perangkat dan teknologi komunikasi nasional.

Nama PT INTI bahkan begitu melekat dengan perkembangan industri teknologi Indonesia era awal modernisasi telekomunikasi.

Namun kejayaan itu perlahan memudar, karena dalam beberapa tahun terakhir, PT INTI berkali-kali diterpa persoalan bisnis dan tekanan keuangan.

Persaingan industri yang semakin brutal, masuknya produk asing, perubahan teknologi yang sangat cepat, hingga persoalan internal perusahaan disebut menjadi kombinasi masalah yang sulit diatasi.

Meski begitu, PT INTI sebenarnya belum sepenuhnya mati.

Perusahaan tersebut masih menjalankan sejumlah lini bisnis hingga sekarang.

Mulai dari produksi kabel serat optik, tabung LPG composite, hingga pengembangan perangkat pintar seperti smart energy devices, produk broadband, dan kartu cerdas masih dikerjakan perusahaan pelat merah tersebut.

Namun berbagai langkah transformasi bisnis yang sudah dilakukan ternyata belum cukup kuat untuk mengembalikan perusahaan ke jalur sehat.

Kondisi itulah yang membuat sinyal penutupan PT INTI langsung menjadi perhatian publik.

Banyak pihak menilai pernyataan Dony merupakan gambaran bahwa pemerintah kini mulai realistis terhadap kondisi sejumlah BUMN bermasalah yang terus menjadi beban.

Dalam penjelasannya, Dony mengungkap salah satu akar masalah terbesar BUMN selama ini adalah sistem pengelolaan yang terpisah-pisah.

Menurutnya, pada era sebelumnya, Kementerian BUMN hanya memiliki kewenangan mengelola, bukan menjadi pemilik langsung perusahaan negara.

Akibatnya, ketika ada satu BUMN yang kolaps atau mengalami krisis, BUMN lain tidak bisa secara fleksibel membantu proses penyelamatan.

“Tetapi karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dan BUMN lain, menyebabkan sulit untuk kita melakukan perbaikan,” katanya.

Akibat pola seperti itu, sejumlah BUMN yang sebenarnya masih punya potensi akhirnya terus terpuruk tanpa solusi cepat.

Kini pemerintah mencoba mengubah pola lama tersebut melalui Danantara.

Danantara hadir sebagai sovereign wealth fund berbasis BUMN yang mengonsolidasikan perusahaan-perusahaan negara dalam satu holding besar.

Melalui model baru itu, berbagai perusahaan raksasa negara seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Krakatau Steel, Garuda Indonesia, Pertamina, hingga Perusahaan Listrik Negara kini berada dalam satu ekosistem holding.

Pemerintah berharap sistem tersebut membuat pengelolaan BUMN menjadi lebih efisien dan terintegrasi.

“Nah dengan disatukannya terkonsolidasi menyebabkan mudah bagi kita dalam pengelolaan BUMN-BUMN kita,” jelas Dony.

Meski demikian, munculnya nama PT INTI sebagai kandidat yang berpotensi ditutup justru memunculkan kekhawatiran besar.

Banyak pihak melihat hal itu sebagai tanda bahwa pemerintah mulai mengambil langkah ekstrem terhadap BUMN yang dianggap sudah terlalu berat untuk dipulihkan.

Di media sosial, kabar soal PT INTI langsung viral.

Banyak netizen mengaku sedih melihat perusahaan yang dulu menjadi kebanggaan nasional kini justru terancam bubar.

“Dulu PT INTI simbol teknologi Indonesia, sekarang malah mau ditutup. Miris,” tulis seorang pengguna media sosial.

Komentar lain menyebut penutupan PT INTI akan menjadi kehilangan besar bagi industri nasional.

Sebab selama ini PT INTI bukan sekadar perusahaan biasa, tetapi bagian dari sejarah perkembangan telekomunikasi Indonesia.

Namun tidak sedikit pula yang menilai langkah tegas memang perlu dilakukan jika perusahaan terus merugi tanpa arah perbaikan yang jelas.

“Kalau terus disuntik tapi tidak sehat-sehat, negara juga rugi terus,” komentar netizen lainnya.

Isu penutupan PT INTI juga kembali membuka diskusi soal kondisi sejumlah BUMN di Indonesia.

Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan negara menghadapi masalah serupa, mulai dari utang besar, manajemen yang tidak efisien, hingga kalah bersaing dengan swasta maupun produk impor.

Sebagian pengamat menilai restrukturisasi besar-besaran memang tidak bisa dihindari jika pemerintah ingin membuat BUMN lebih sehat dan kompetitif.

Namun di sisi lain, keputusan menutup perusahaan bersejarah seperti PT INTI tentu bukan perkara mudah.

Selain menyangkut aset negara, langkah tersebut juga berkaitan dengan nasib pegawai, rantai industri, hingga masa depan sektor teknologi nasional.

Apalagi PT INTI pernah menjadi bagian penting dalam proyek strategis telekomunikasi Indonesia.

Karena itu, pernyataan Dony Oskaria kini dianggap sebagai alarm keras bahwa pemerintah mulai bersikap lebih tegas terhadap perusahaan negara yang dinilai tidak lagi mampu bertahan.

Hingga kini belum ada keputusan resmi terkait pembubaran PT INTI.

Namun sinyal yang disampaikan petinggi Danantara itu cukup untuk membuat publik sadar bahwa masa depan BUMN telekomunikasi legendaris tersebut sedang berada di titik paling genting dalam sejarahnya.

Jika benar ditutup, maka berakhir pula perjalanan panjang PT INTI sebagai salah satu ikon industri telekomunikasi Indonesia.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU