JAKARTA, HOLOPIS.COM – Pernyataan Prabowo soal warga desa tak pakai dolar memicu polemik. Menkeu Purbaya pun buka suara menjelaskan maksud ucapan itu.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait masyarakat desa yang disebut “tidak pakai dolar” mendadak menjadi sorotan publik dan viral di media sosial.
Ucapan itu memicu perdebatan luas di tengah kondisi rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.
Polemik makin ramai setelah berbagai potongan video pidato Prabowo tersebar di platform digital.
Sebagian netizen menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat kecil.
Namun, pemerintah menegaskan ucapan itu tidak dimaksudkan untuk meremehkan persoalan ekonomi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya memberikan klarifikasi terkait maksud sebenarnya dari ucapan Prabowo.
Menurut Purbaya, Presiden hanya ingin menenangkan masyarakat desa agar tidak panik menghadapi gejolak kurs dolar AS.
“Untuk menghibur rakyat. Saya sih lihat konteksnya di perdesaan waktu kemarin itu, nggak apa-apa ngomong begitu. Bukan berarti presiden nggak ngerti dolar,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).
Pernyataan Prabowo sendiri disampaikan saat meresmikan 1.062 Koperasi Desa Merah Putih di Jawa Timur beberapa hari lalu.
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung kondisi rupiah yang sedang melemah terhadap dolar AS.
Meski begitu, ia meminta masyarakat desa tidak terlalu khawatir terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Menurut Prabowo, dampak langsung penguatan dolar lebih banyak dirasakan kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas ekonomi internasional atau sering bepergian ke luar negeri.
“Nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” kata Prabowo dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden.
Ucapan tersebut langsung menjadi bahan perdebatan.
Potongan video pidato Prabowo beredar cepat di media sosial dan menuai beragam komentar.
Ada yang menganggap pernyataan itu sekadar candaan untuk mencairkan suasana.
Namun tidak sedikit pula yang menilai pelemahan rupiah tetap berdampak pada masyarakat desa melalui kenaikan harga kebutuhan pokok.
Ekonom dan pengamat menilai pelemahan rupiah memang dapat memicu kenaikan harga barang impor, terutama bahan pangan dan bahan baku industri yang masih bergantung pada pasar luar negeri.
Dampak itu pada akhirnya bisa dirasakan hingga ke tingkat masyarakat bawah.
Menanggapi hal tersebut, Purbaya mengatakan efek pelemahan rupiah terhadap masyarakat desa tidak selalu terjadi secara langsung.
Ia menilai sebagian besar masyarakat di pedesaan tidak berhubungan langsung dengan transaksi dolar AS sehingga dampaknya cenderung tidak terasa dalam waktu cepat.
“Kan yang besar-besarkan kan media, terus disebar ke mana-mana. Kalau buat orang desa ya emang terlalu jauh lah dampaknya nilai tukar dolar,” kata Purbaya.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya kemungkinan imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor.
Salah satu contoh yang disebut adalah kedelai impor yang memengaruhi harga tahu dan tempe ketika rupiah melemah.
Namun, Purbaya menilai imported inflation tidak selalu signifikan.
Bahkan menurutnya, sejumlah teori ekonomi masih memperdebatkan sejauh mana dampak pelemahan kurs terhadap kenaikan harga barang di dalam negeri.
“Imported inflation secara teoritis nggak terlalu signifikan kok. Kalau kamu baca buku-buku ekonomi yang clear seperti itu, kadang-kadang jelas kadang-kadang nggak, sebagian meragukan adanya imported inflation,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan kenaikan harga akibat imported inflation biasanya tidak terjadi secara instan.
Dalam beberapa kasus, ketika dampaknya mulai terasa di pasar domestik, kondisi nilai tukar justru sudah kembali stabil sehingga efeknya mereda.
“Itu pasti ada delay dan kadang-kadang juga hilang. Jadi itu kadang-kadang ada, kadang-kadang nggak,” lanjutnya.
Di tengah polemik tersebut, perhatian publik kini tertuju pada kondisi ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah belakangan berada dalam tekanan akibat penguatan dolar AS secara global.
Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga bank sentral AS dan ketidakpastian ekonomi dunia menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelemahan rupiah juga sempat diikuti tekanan di pasar saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Situasi itu membuat Prabowo memanggil sejumlah pejabat ekonomi ke Istana Negara, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Gubernur Bank Indonesia.
Pertemuan tersebut membahas langkah menjaga stabilitas rupiah serta kondisi pasar keuangan nasional.
Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi tekanan global.
Inflasi domestik disebut masih terkendali dan aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan stabil.
Meski begitu, isu pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian masyarakat karena dapat berdampak pada harga barang kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah komoditas seperti gandum, kedelai, gula, hingga bahan bakar masih dipengaruhi harga internasional dan transaksi dolar AS.
Karena itu, pernyataan Prabowo yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dinilai sensitif oleh sebagian kalangan.
Banyak netizen menilai masyarakat kecil tetap terdampak secara tidak langsung ketika harga barang naik akibat pelemahan rupiah.


