JAKARTA, HOLOPIS.COM – Bukan cuma rupiah yang terus melemah, Perry Warjiyo juga diterpa rentetan tekanan politik, kritik tajam, hingga akhirnya memilih mundur dari Bank Indonesia.
Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Senin (27/7/2026) mengejutkan publik.
Keputusan tersebut datang setelah perjalanan panjang penuh tekanan yang membayangi bank sentral, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kritik terhadap kebijakan moneter, hingga polemik mengenai independensi BI.
Meski pemerintah memastikan tidak ada intervensi di balik keputusan tersebut, mundurnya Perry terjadi setelah sejumlah persoalan mencuat dan menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, Perry Warjiyo telah menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto pada Ahad (26/7/2026).
Menurutnya, Perry tidak menjelaskan secara rinci alasan di balik keputusannya meninggalkan kursi pimpinan bank sentral.
“Beliau berkirim surat, karena alasan pribadi, tentu kita menghormati. Kalau detailnya kami tidak tahu,” ujar Prasetyo di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Pemerintah juga membantah adanya tekanan politik maupun masalah kesehatan yang menjadi penyebab Perry mundur.
Prasetyo menegaskan, keputusan tersebut merupakan langkah pribadi dari Perry yang harus dihormati.
Namun, sebelum pengunduran diri itu diumumkan, posisi Perry Warjiyo memang tengah berada dalam pusaran berbagai tekanan.
Salah satu tekanan terbesar datang dari kondisi rupiah yang mengalami pelemahan cukup dalam sepanjang 2026.
Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Dari sisi global, penguatan dolar Amerika Serikat, tingginya imbal hasil obligasi AS, ketidakpastian ekonomi dunia, serta keluarnya arus modal dari negara berkembang menjadi faktor yang memperberat tekanan terhadap mata uang Garuda.



