JAKARTA, HOLOPIS.COM – Kabar Gregoria Mariska Tunjung mundur dari Pelatnas PBSI mengejutkan publik. Padahal, Jorji pernah jadi penyelamat Indonesia di Olimpiade 2024.
Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, kembali jadi sorotan publik.
Kali ini bukan karena kemenangan di lapangan, melainkan keputusan mengejutkannya mundur dari Pelatnas PBSI Cipayung usai mengalami gangguan kesehatan berupa vertigo yang tak kunjung pulih.
Keputusan tersebut diumumkan pada Jumat (15/5) setelah Gregoria melakukan komunikasi dengan jajaran pengurus PBSI, termasuk Kabid Binpres PP PBSI Eng Hian dan pelatih tunggal putri utama Imam Tohari.
Kepergian Gregoria dari Pelatnas tentu meninggalkan rasa kehilangan besar bagi bulutangkis Indonesia.
Sebab selama lebih dari satu dekade, atlet asal Wonogiri, Jawa Tengah itu menjadi salah satu tulang punggung sektor tunggal putri Merah Putih.
Nama Gregoria bukan sekadar atlet biasa. Perempuan yang akrab disapa Jorji tersebut sudah mengoleksi sederet prestasi bergengsi sejak usia muda.
Bahkan, dia pernah menjadi penyelamat muka bulutangkis Indonesia di ajang Olimpiade Paris 2024 saat hampir seluruh wakil Merah Putih tumbang lebih awal.
Pada Olimpiade Paris 2024, harapan publik Indonesia sempat berada di titik terendah.
Sejumlah pemain unggulan yang diharapkan membawa medali justru tersingkir lebih cepat dari prediksi.
Nama-nama besar seperti Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, hingga pasangan ganda putri Apriyani Rahayu dan Siti Fadia Silva Ramadhanti harus angkat koper lebih cepat.
Situasi makin berat ketika pasangan ganda putra andalan Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto, juga gagal melangkah jauh setelah terhenti di babak perempat final.
Di tengah keterpurukan itu, Gregoria muncul sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan di cabang bulutangkis.
Jorji sukses menjaga asa Merah Putih setelah menumbangkan wakil Korea Selatan, Kim Ga-eun, dalam duel dramatis babak 16 besar.
Gregoria menang lewat pertarungan tiga gim dengan skor 21-4, 8-21, dan 23-21.
Pertandingan tersebut berlangsung menegangkan karena Gregoria sempat kehilangan momentum di gim kedua sebelum akhirnya bangkit pada gim penentuan.
Kemenangan itu membuat Gregoria menjadi satu-satunya atlet bulutangkis Indonesia yang masih bertahan di Olimpiade Paris 2024.
Tak sedikit publik yang menyebut dirinya sebagai penyelamat wajah bulutangkis Indonesia di tengah hasil buruk yang dialami kontingen Merah Putih.
Perjalanan Gregoria di Paris pun menjadi salah satu momen paling emosional dalam kariernya.
Dia berhasil melangkah hingga perebutan medali perunggu dan akhirnya memastikan podium Olimpiade.
Medali perunggu Olimpiade Paris 2024 menjadi pencapaian terbesar Gregoria sepanjang karier profesionalnya.
Meski laga perebutan tempat ketiga melawan wakil Spanyol, Carolina Marin, batal digelar karena lawannya mengalami cedera lutut serius di semifinal, prestasi Gregoria tetap mendapat apresiasi tinggi.
Raihan tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang sektor tunggal putri Indonesia untuk kembali naik podium Olimpiade.
Sebelum bersinar di level senior, Gregoria sejatinya sudah menunjukkan bakat luar biasa sejak usia muda.
Dia mulai dikenal luas usai menjuarai Kejuaraan Dunia Junior 2017.
Prestasi itu terasa sangat spesial karena Gregoria menjadi tunggal putri Indonesia pertama yang berhasil merebut gelar juara dunia junior sejak era Kristin Yunita pada 1992.
Tak hanya itu, Gregoria juga beberapa kali naik podium Kejuaraan Asia Junior.
Dia meraih medali perak nomor tunggal putri pada edisi 2016 di Bangkok, lalu medali perak beregu campuran pada 2017 di Jakarta, serta medali perunggu beregu campuran pada 2015.
Karier Gregoria terus berkembang ketika masuk ke level elite dunia.
Dia mulai rutin bersaing di turnamen BWF World Tour dan menghadapi pemain-pemain papan atas dunia.
Sepanjang kariernya, Gregoria berhasil merebut dua gelar BWF World Tour, yakni Spain Masters 2023 dan Kumamoto Masters 2023.
Selain itu, dia juga beberapa kali menjadi finalis turnamen besar seperti Australia Open 2022, Malaysia Masters 2023, Swiss Open 2024, hingga Kumamoto Masters 2024 dan 2025.
Performa konsisten itu membuat Gregoria sempat menembus lima besar ranking dunia.
Pencapaian tersebut menjadi ranking tertinggi yang pernah diraih tunggal putri Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Di level beregu, kontribusi Gregoria juga sangat besar untuk tim nasional Indonesia.
Dia turut membantu Indonesia meraih medali perak Uber Cup 2024 dan perunggu Piala Sudirman 2019.
Sementara di ajang multi-event, Gregoria menyumbang sejumlah medali untuk Indonesia.
Dia meraih perunggu Asian Games 2018 nomor beregu putri, lalu beberapa medali SEA Games baik di sektor beregu maupun individu.
Selama berada di Pelatnas PBSI Cipayung sejak 2014, Gregoria dikenal sebagai atlet pekerja keras dan punya mental bertanding tinggi.
Di tengah tekanan besar sektor tunggal putri Indonesia, dia mampu tampil konsisten dan menjadi andalan dalam berbagai turnamen internasional.
Kini, keputusan Gregoria mundur dari Pelatnas karena masalah kesehatan tentu menjadi pukulan tersendiri bagi bulutangkis Indonesia.
Namun kontribusi dan prestasi yang telah ditorehkan Jorji akan tetap dikenang publik.
Terlebih, momen ketika dirinya menjadi harapan terakhir Indonesia di Olimpiade Paris 2024 menjadi bukti bahwa Gregoria pernah berdiri di tengah tekanan besar demi menjaga nama Indonesia di panggung dunia.
Bagi pecinta bulutangkis Tanah Air, Gregoria Mariska Tunjung bukan hanya soal medali.
Dia adalah simbol perjuangan, konsistensi, dan semangat pantang menyerah yang pernah menyelamatkan muka bulutangkis Indonesia di ajang Olimpiade.


