HOLOPIS.COM, JAKARTA – Komando militer utama Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, menuduh militer Amerika Serikat (AS) melakukan serangan terhadap dua kapal Iran di sekitar Selat Hormuz pada Kamis (7/5) malam waktu setempat. Dalam pernyataannya, Iran juga mengeklaim AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah sipil di selatan Iran dengan dukungan beberapa negara kawasan.
“Serangan tentara AS yang agresif dan teroris ini merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat,” ujar juru bicara markas tersebut, Ebrahim Zolfaghari, dikutip Holopis.com.
Menurut Zolfaghari, salah satu kapal yang menjadi sasaran merupakan kapal tanker minyak yang tengah berlayar dari perairan Iran di dekat Jask menuju Selat Hormuz. Sementara kapal lainnya disebut sedang memasuki jalur perairan dekat Fujairah, Uni Emirat Arab.
Ia juga mengatakan sejumlah wilayah sipil seperti Bandar-e Khamir dan Sirik di Provinsi Hormozgan turut menjadi target serangan.
Iran kemudian mengklaim telah melancarkan serangan balasan dengan menargetkan kapal militer AS di timur Selat Hormuz dan selatan Pelabuhan Chabahar.
Zolfaghari menyebut serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar pada kapal-kapal AS dan menegaskan Iran akan memberikan respons keras terhadap setiap bentuk agresi.
“Iran akan memberikan respons destruktif terhadap setiap agresi tanpa keraguan,” ujarnya.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Jumat (8/5) pagi menyatakan pasukan Iran telah menjalankan “operasi gabungan skala besar dan berpresisi” menggunakan rudal balistik, rudal jelajah antikapal, serta drone peledak untuk menyerang kapal perusak AS.
Iran mengeklaim hasil penilaian intelijen menunjukkan adanya kerusakan signifikan sehingga tiga kapal perusak AS mundur dari kawasan Selat Hormuz.
Di sisi lain, United States Central Command (CENTCOM) menyebut pasukan AS berhasil mencegat “serangan Iran yang tidak beralasan” dan melakukan serangan balasan sebagai bentuk pertahanan diri saat kapal angkatan laut AS melintas di Selat Hormuz.
CENTCOM juga menegaskan pihaknya tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut, namun siap melindungi personel militer Amerika.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan tiga kapal perusak AS yang melintasi Selat Hormuz tidak mengalami kerusakan.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengklaim Iran mengalami kerugian besar dan memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih keras dan jauh lebih sengit.
Di tengah meningkatnya ketegangan, koresponden Fox News Jennifer Griffin mengutip pejabat senior AS yang menyebut militer Amerika memang melakukan serangan terhadap Pelabuhan Qeshm dan Bandar Abbas di Iran. Namun, pejabat tersebut menegaskan tindakan itu bukan berarti perang dimulai kembali ataupun gencatan senjata telah berakhir.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengumumkan penghentian sementara Project Freedom, operasi militer AS untuk mengawal kapal komersial keluar dari Selat Hormuz.
Menurut Trump, keputusan tersebut diambil setelah adanya permintaan dari Pakistan dan beberapa negara lain, serta karena disebut terdapat “kemajuan besar” menuju kesepakatan damai dengan Iran. Operasi tersebut berjalan kurang dari 48 jam sebelum akhirnya ditangguhkan.


