Momen Haru di Gaza, Ibu Peluk Putranya Setelah Terpisah Hampir Dua Tahun

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah konflik berkepanjangan yang terus melanda Gaza, kisah-kisah kehilangan dan perpisahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ribuan keluarga terpaksa terpisah akibat serangan, evakuasi darurat, hingga runtuhnya sistem layanan kesehatan. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, kabar tentang keselamatan anggota keluarga kerap menjadi sesuatu yang sulit dipastikan, bahkan untuk orang tua terhadap anaknya sendiri.

Di antara deretan cerita duka tersebut, muncul momen langka yang menghadirkan harapan. Sejumlah bayi prematur yang sebelumnya dievakuasi ke luar Gaza akhirnya kembali ke pelukan keluarga mereka setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, terpisah. Kepulangan mereka bukan hanya soal bertemunya kembali keluarga, tetapi juga menjadi simbol bertahannya kehidupan di tengah kondisi yang sangat terbatas.

Bagi seorang ibu asal Gaza City, Om Jude Abu Warda, momen saat akhirnya memeluk kembali putranya setelah hampir dua tahun terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.

“Saya tidak percaya dia akhirnya ada di sini,” ujarnya sambil memperhatikan Jude yang kini berusia dua tahun bergerak hati-hati di dalam tenda keluarga, dikutip Holopis.com, Rabu (29/4).

“Setiap gerakan, setiap tatapan, terasa seperti keajaiban,” lanjutnya.

Jude lahir prematur di Rumah Sakit Al-Shifa pada awal babak terbaru konflik Israel-Palestina yang meletus pada 7 Oktober 2023. Saat itu, rumah sakit berada dalam kondisi krisis akibat pengeboman berulang, kekurangan bahan bakar, serta minimnya pasokan medis.

- Advertisement -

Lahir di usia delapan bulan, Jude membutuhkan perawatan intensif dalam inkubator untuk menghindari berbagai komplikasi. Namun, ketika sebagian rumah sakit terdampak serangan, keluarga sempat mendapat kabar bahwa bayi tersebut telah meninggal dunia.

“Tetapi lebih dari setahun kemudian, kami mengetahui bahwa dia masih hidup dan dirawat di Mesir,” kata Om Jude.

Jude termasuk dalam 28 bayi prematur yang dievakuasi dari Rumah Sakit Al-Shifa setelah fasilitas tersebut rusak. Evakuasi dilakukan untuk memastikan mereka tetap mendapatkan perawatan medis di tengah runtuhnya sistem kesehatan di Gaza.

Selama berbulan-bulan, Om Jude hanya bisa melihat tumbuh kembang anaknya dari kejauhan melalui panggilan video dan informasi dari tenaga medis.

“Melihat anak Anda tumbuh dari jauh, tanpa tahu apakah dia akan bertahan hidup, sungguh tidak tertahankan,” kenangnya.

Kepulangan Jude, bersama tujuh bayi prematur lainnya, menjadi momen langka yang membawa kelegaan bagi banyak keluarga di Gaza.

“Dia masih belum lancar berbicara, tetapi akhirnya dia bersama kami,” ujarnya.

Keluarga pun mempersiapkan kedatangannya dengan membeli pakaian, mainan, dan kebutuhan lainnya.

“Saya membayangkan momen ini berkali-kali. Sekarang, melihatnya dengan mata saya sendiri lebih dari yang saya harapkan,” katanya.

Namun, tidak semua kisah reuni berakhir sepenuhnya bahagia. Bagi Ahmed al-Harsh (31), kebahagiaan bertemu anaknya juga dibayangi kehilangan besar. Ia mengunjungi makam istri, ibu, dan saudara-saudaranya yang tewas dalam konflik, tepat saat anaknya pertama kali menginjakkan kaki di Gaza.

Anaknya, yang lahir prematur di usia tujuh bulan, telah dievakuasi saat berusia tiga pekan tanpa didampingi keluarga.

“Perasaan terberat adalah memeluk anak Anda ketika mereka tidak mengenali Anda,” katanya. “Saya berharap anak-anak ini dapat tumbuh dalam kedamaian dan stabilitas.”

Anak-anak tersebut tiba di perlintasan Rafah pada akhir Maret di bawah pengawasan UNICEF, sebelum dibawa ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis untuk pemeriksaan kesehatan menyeluruh.

Direktur jenderal otoritas kesehatan Gaza, Monir al-Borsh, menyebut kepulangan mereka sebagai secercah harapan di tengah kondisi sulit.

“Delapan nyawa diselamatkan dari ambang kematian,” ujarnya. “Kembalinya anak-anak ini memberikan kelegaan dan harapan bagi keluarga yang telah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian.”

Sementara itu, direktur pediatri dan obstetri di Rumah Sakit Nasser, Ahmed Al-Farra, mengungkapkan bahwa dari 28 bayi prematur yang dievakuasi pada November 2023, lima di antaranya meninggal selama proses evakuasi atau perawatan di Mesir.

“Perawatan diberikan dengan sarana yang sangat terbatas hingga tersedia layanan khusus. Kepulangan mereka merupakan langkah kemanusiaan yang penting dan menegaskan kebutuhan mendesak akan dukungan bagi sektor kesehatan Gaza,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan dan duka yang masih menyelimuti, pertemuan kembali ini menjadi momen berharga bagi para orang tua.

“Anak-anak akhirnya pulang. Kami akan menjalani setiap hari sebagai anugerah dan menghargai setiap momen,” kata Om Jude.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU