Gencatan Senjata Rapuh, Pasukan PBB Kini Jadi Target di Medan Konflik

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTAEskalasi konflik terus meningkat di Lebanon selatan membuat pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) malah berada di posisi paling rentan. Misi yang seharusnya menjaga stabilitas kini berubah menjadi pihak yang ikut menanggung dampak langsung dari pertempuran.

Salah satu korban terbaru adalah pasukan UNIFIL asal prajurit Indonesia, Praka Rico Pramudia, yang meninggal dunia setelah jalani perawatan akibat luka serius dari serangan sebelumnya.

- Advertisement -

Mengutip laporan Euronews, UNIFIL menyampaikan pernyataan resmi atas wafatnya prajurit tersebut.

UNIFIL menyesalkan meninggalnya Kopral Rico Pramudia, yang mengalami luka parah akibat ledakan proyektil di pangkalan mereka di Adchit Al Qusayr pada malam 29 Maret,” demikian pernyataan UNIFIL yang dikutip pada Minggu, (26/4/2026)

- Advertisement -

Kematian ini menambah jumlah korban dari kalangan pasukan perdamaian menjadi enam orang sejak konflik terbaru pecah pada awal Maret. Angka itu memperlihatkan garis netral kini tak lagi aman.

Ancaman Datang dari Dua Arah

Hasil investigasi awal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap kompleksitas situasi di lapangan. Tidak ada satu sumber ancaman tunggal. Total, ada empat prajurit TNI dalam UNIFIL yang gugur.

Satu prajurit asal Indonesia dilaporkan tewas akibat tembakan tank dari Israel. Sementara, dua lainnya gugur akibat alat peledak improvisasi.

Fakta ini menunjukkan bahwa pasukan penjaga perdamaian kini berada dalam risiko tinggi dari kedua sisi konflik. Situasi yang jauh dari mandat awal mereka.

Indonesia pun mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh untuk memastikan akuntabilitas atas insiden tersebut.

Sejak dibentuk pada 1978, UNIFIL bertugas menjaga keseimbangan antara Israel dan Lebanon. Namun, dalam konflik terbaru, posisi mereka berubah drastis. Pasukan penjaga perdamaian itu berubah dari penengah menjadi pihak yang terjebak di garis tembak.

Selain korban dari Indonesia, dua tentara Prancis juga tewas dalam penyergapan pada 18 April 2026. Otoritas Prancis dan PBB menuding Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab, meski tuduhan tersebut dibantah.

Dengan kekuatan sekitar 8.200 personel dari 47 negara, UNIFIL kini menghadapi tantangan serius dalam menjalankan mandatnya di tengah eskalasi konflik yang kian sulit dikendalikan.

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang mulai berlaku sejak 17 April kini berada di ambang kegagalan. Serangkaian serangan dan balasan menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut rapuh dan hanya bertahan di atas kertas.

Pernyataan keras dari Israel untuk meningkatkan serangan terhadap Hizbullah semakin memperbesar potensi konflik terbuka. Dalam situasi seperti ini, pasukan penjaga perdamaian jadi pihak paling rentan. Pasukan penjaga perdamaian tanpa kemampuan ofensif, namun berada di tengah zona perang aktif.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru