HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia kembali berduka atas gugurnya prajurit terbaik bangsa, Praka Rico Pramudia, yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Ia meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat luka berat yang dideritanya dalam insiden akhir Maret lalu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyampaikan duka mendalam sekaligus penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian almarhum dalam menjaga perdamaian dunia.
“Pemerintah menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Negara hadir untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas pengabdian dan pengorbanan almarhum bagi perdamaian dunia,” ujar Nabyl, Sabtu (25/4/2026).
Praka Rico diketahui mengalami luka serius akibat ledakan artileri dari tank Israel di wilayah dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026. Ia sempat dirawat hampir satu bulan oleh tim medis di Beirut, namun kondisinya tidak tertolong.
“Berbagai langkah medis telah diupayakan, namun akibat kondisi luka yang cukup berat, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan,” imbuh Nabyl.
Pemerintah Indonesia juga kembali mengecam keras serangan yang menyebabkan gugurnya personel penjaga perdamaian tersebut. Indonesia menegaskan bahwa keselamatan pasukan PBB adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Serangan terhadap pasukan perdamaian dinilai sebagai pelanggaran serius hukum internasional, bahkan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Oleh karena itu, Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan investigasi menyeluruh.
“Indonesia mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini,” kata Nabyl.
Dengan gugurnya Praka Rico, total empat prajurit Indonesia meninggal dalam rangkaian insiden tersebut. Sebelumnya, Praka Farizal Rhomadhon gugur di lokasi kejadian, disusul Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan sehari setelahnya di wilayah Bani Haiyyan, Lebanon Selatan.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian Indonesia di medan konflik, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.

