HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat di tengah rapuhnya gencatan senjata yang masih berlangsung. Situasi ini turut membayangi kelanjutan proses diplomasi antara kedua negara yang hingga kini belum menunjukkan titik terang.
Dikutip Holopis.com, Selasa (21/4), Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada Senin (20/4) menyatakan bahwa tindakan provokatif serta pelanggaran gencatan senjata oleh AS menjadi hambatan utama bagi kelanjutan perundingan damai.
Dalam pembicaraan telepon terpisah dengan Menteri Luar Negeri Pakistan dan Rusia, Araghchi mengecam langkah AS terhadap pelayaran komersial Iran. Ia menyoroti laporan penyitaan kapal kontainer Touska beserta awaknya, serta menyebut adanya ‘sikap kontradiktif dan retorika ancaman’ dari Washington, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April, setelah 40 hari konflik, dinilai masih sangat rapuh. Pakistan sebelumnya memfasilitasi pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington, dengan putaran pertama perundingan digelar di Islamabad pada 11–12 April. Namun hingga kini, Iran belum mengonfirmasi partisipasinya dalam putaran lanjutan.
Kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa kehadiran Iran dalam perundingan berikutnya bergantung pada pemenuhan sejumlah prasyarat oleh AS. Blokade angkatan laut serta “tuntutan berlebihan” dari Washington disebut sebagai hambatan utama dalam proses tersebut.
Araghchi menegaskan bahwa Iran masih mempertimbangkan langkah selanjutnya, termasuk apakah akan melanjutkan jalur diplomasi. Keputusan tersebut, kata dia, akan diambil dengan mempertimbangkan “seluruh aspek isu” serta perilaku AS, sembari memastikan kepentingan dan keamanan nasional tetap terlindungi.
Ketegangan ini berakar dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran sejak 28 Februari, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset AS di kawasan Timur Tengah.

