HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan global mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat (AS)-Israel melancarkan serangan terarah ke Pulau Kharg, Iran. Pulau Kharg merupakan kawasan strategis yang menjadi pusat utama ekspor minyak negara tersebut.
Mengutip dari laporan media internasional, serangan gabungan AS-Israel bukan sekadar aksi taktis. Tapi, juga melainkan sinyal kuat eskalasi konflik yang berpotensi mengguncang dunia.
Pulau Kharg, yang terletak di Teluk Persia dan berukuran sekitar sepertiga Manhattan, selama ini dikenal sebagai ‘urat nadi’ ekonomi Iran. Sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran dikendalikan dari pulau ini. Dengan demikian, menjadikannya target bernilai tinggi dalam dinamika geopolitik.
Menurut laporan New York Post, yang bersumber dari pejabat senior AS bahwa sekitar 50 serangan bakal dilancarkan ke berbagai target militer di pulau tersebut. Serangan ini menyasar fasilitas strategis, termasuk bunker militer, sistem pertahanan udara, serta fasilitas penyimpanan penting.
Seorang pejabat AS mengungkap bahwa serangan udara difokuskan di sisi utara pulau. Dengan target utama infrastruktur militer Iran yang dianggap krusial.
Langkah ini menunjukkan bahwa operasi dilakukan secara presisi dengan sasaran yang telah diperhitungkan secara matang.
Di tengah operasi militer tersebut, Presiden AS Donald Trump, melontarkan pernyataan keras yang langsung menyita perhatian global.
Saat ditanya mengenai serangan di Pulau Kharg, Trump awalnya menyatakan dengan jawaban santai. “Saya tidak dapat berkomentar tentang itu,” kata Trump dikutip pada Rabu, (8/4/2026).
Namun tak lama berselang, melalui platform Truth Social, ia mengeluarkan ancaman ekstrem kepada Iran.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi. Namun, sekarang kita memiliki Perubahan Rezim yang Lengkap dan Total, di mana pikiran yang berbeda, lebih cerdas, dan kurang radikal berkuasa, mungkin sesuatu yang revolusioner dan luar biasa dapat terjadi, SIAPA TAHU?” tulis Trump.
Ia juga menambahkan bahwa sejarah Iran akan diketahui pasca serangan gabungan AS-Israel.
“Kita akan mengetahuinya malam ini, salah satu momen terpenting dalam sejarah dunia yang panjang dan kompleks. 47 tahun pemerasan, korupsi, dan kematian, akhirnya akan berakhir. Tuhan memberkati rakyat Iran yang hebat!”
Pernyataan tersebut dikaitkan dengan ultimatum Trump agar Iran membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 8 malam waktu setempat.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance, menegaskan bahwa serangan ke Pulau Kharg bukanlah perubahan strategi besar. Kata dia, rencana itu bagian dari langkah yang sudah direncanakan.
Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
“Tentang hal ini adalah, bahwa kita akan menyerang beberapa target militer di Pulau Kharg. Saya percaya kita telah melakukannya,” ujar vance.
Seiring mendekati tenggat waktu yang ditetapkan Washington, intensitas serangan di wilayah lain Iran dilaporkan meningkat.
Media Iran menyebutkan sejumlah infrastruktur vital ikut menjadi sasaran, mulai dari jembatan kereta api, jalan raya, bandara, hingga pabrik petrokimia.
Salah satu serangan di Kashan dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang, setelah jembatan kereta api dihantam.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada satu titik, melainkan mulai meluas ke berbagai wilayah strategis Iran.
Iran Ancam Balasan Tanpa Batas
Merespons serangan tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan keras yang menandai potensi eskalasi lebih jauh.
“Kami akan melakukan sesuatu terhadap infrastruktur Amerika dan para mitranya yang akan merampas minyak dan gas Amerika dan sekutunya di kawasan ini selama bertahun-tahun.”
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran siap melakukan serangan balasan yang menyasar kepentingan energi dan infrastruktur AS serta sekutunya di kawasan Timur Tengah.

