HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harapan meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memudar. Perundingan gencatan senjata yang berlangsung intensif selama lebih dari 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu dini hari.
Kegagalan ini bukan sekadar deadlock diplomasi, melainkan sinyal bahwa konflik bisa kembali memanas setelah masa gencatan senjata dua minggu berakhir pada 22 April.
Alih-alih menemukan titik temu, AS vs Iran justru saling klaim dengan menyalahkan. Situasi ini memperlihatkan betapa dalam jurang perbedaan yang masih memisahkan kedua pihak, bahkan setelah perang selama 40 hari yang menimbulkan kerusakan besar dan mengguncang stabilitas global.
Mengutip dari laporan media internasional, belum ada kepastian apakah perundingan akan dilanjutkan. Di tengah ketidakjelasan tersebut, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman baru terhadap Iran. Manuver Trump itu memperkeruh suasana yang sudah tegang.
Para negosiator kini kembali ke ibu kota masing-masing, membawa pulang kebuntuan yang belum menemukan solusi.
Meski begitu, kegagalan ini belum otomatis berarti perang akan kembali pecah. Namun, kondisi ini memperlihatkan bahwa kedua pihak tetap bersikeras dengan posisi masing-masing.
Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi, menegaskan bahwa Iran belum memberikan jaminan yang diharapkan.
“Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir,” kata Vance dikutip pada Senin, (13/4/2026).
Di sisi lain, Iran tetap pada pendiriannya. Iran menolak tuduhan pengembangan senjata nuklir. Teheran bersikeras mempertahankan program pengembangan pengayaan uranium.
Para ahli menilai posisi ini krusial, karena tingkat pengayaan uranium Iran saat ini hanya tinggal selangkah teknis menuju level senjata nuklir.
Dari pihak Iran, sinyal ketidakpercayaan terhadap AS terlihat jelas. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa bola kini ada di tangan Washington.
“Apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kami atau tidak,” tutur
Pernyataan ini mencerminkan inti persoalan yakni bukan hanya soal tuntutan teknis. Tapi, juga krisis kepercayaan yang sudah mengakar lama.
Selain isu nuklir, ketegangan juga berkisar pada Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi energi dunia.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menegaskan bahwa kontrol atas selat tersebut adalah hak negaranya.
“Mengendalikan selat tersebut adalah bagian dari hak rakyat,” tutur Reza.
AS dalam proposal 15 poinnya mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz untuk menjamin stabilitas pasokan minyak global. Sebaliknya, Iran dalam rencana 10 poinnya justru menuntut kendali atas jalur strategis tersebut, sekaligus meminta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Ketegangan ini berdampak langsung pada ekonomi global. Penutupan selat sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar internasional.
AS membawa proposal 15 poin yang menekankan pembatasan nuklir dan stabilitas jalur energi global. Sementara Iran mengajukan 10 poin yang menuntut kedaulatan penuh, penghentian serangan terhadap sekutunya seperti Hizbullah, serta kompensasi perang.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kedua pihak bukan hanya berbeda posisi. Namun, juga memiliki visi yang bertolak belakang tentang masa depan kawasan.
Dengan berakhirnya perundingan tanpa hasil, dunia kini berada dalam fase menunggu yang penuh ketidakpastian. Harga minyak dunia dikhawatirkan melonjak sehingga memicu kepanikan banyak negara.

