HOLOPIS.COM, JAKARTA – Salah satu tersangka kasus ujaran kebencian dan hoaks yang dilaporkan Joko Widodo, Tifauzia Tyassuma mengaku sangat kecewa dengan sikap dan manuver rekan sejawatnya yang sempat bersama melawan dugaan ijazah palsu mantan Presiden RI ke 7, yakni Rismon Hasiholan Sianipar.
Di mana Rismon kini membelot dari perjuangan bersamanya, dan memilih menjadi bagian dari kubu pembela Joko Widodo atas dugaan ijazah palsu S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
“Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang. Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut,” tulis Tifa di akun X pribadinya @DikterTifa seperti dikutip Holopis.com, Rabu (18/3/2026).
Sejauh ini, ia memastikan bahwa dirinya tidak akan mengikuti jejak Rismon. Ia ingin tetap berada pada pendirian dan konsistensinya melawan Jokowi terkait tudingan ijazah palsu tersebut.
“Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan Insya Allah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon. Laa hawla wa laa quwwata illa billah,” ujarnya.
Ia merasa bahwa apa yang dialami Rismon tidak natural. Sebagai orang yang sudah lama berjuang bersama dalam barisan melawan ijazah palsu yang dialamatkan kepada Jokowi, Tifa yakin Rismon berada di bawah tekanan yang sangat luar biasa, dan ia tidak kuasa melawannya saat ini.
“Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat,” ujarnya.
Ia tidak begitu tahu bagaimana sepak terjang pendidikan asli Rismon. Apalagi belakangan ia diterpa dengan isu soal ijazah S2 hingga doktornya di Jepang yang bermasalah, termasuk soal dugaan surat keterangan kematian. Jika benar itu adanya, ia memahami bahwa jelas apa yang dihadapi Rismon bukan persoalan yang mudah diatasi.
“Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S2 dan S3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun. Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian,” tuturnya.
Pun demikian, lulusan S1 Kedokteran di Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut mengaku bahwa dirinya sangat mengenal Rismon sebagai sosok yang sangat tegas dan apa adanya.
“Karena saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan bernyali, serta cermat dalam analisis,” tandas Tifa.
Termasuk dalam aspek keilmuan dan kepakarannya, Tifa memandang bahwa Rismon memilikinya. Terlepas apakah mantan rekan sejawatnya itu benar-benar punya dokumen kelulusan dari lembaga pendidikan di negara Tirai Bambu itu.
“Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: “Why, Mon, kenapa kau musti palsuin ijazah, sih?”),” ketusnya.
Langkah yang Rismon ambil saat ini menurut Rismon setidaknya dalam penilaiannya memang sangat aneh dan terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya ditunjukkan oleh trio penyerang Ijazah Jokowi tersebut.
“Setahun ini kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Se-iya sekata, dan senasib sepenanggungan. Hanya kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat,” tuturnya.
Tak ingin merasa sakit hati dan kecewa terlalu berat dengan Rismon Sianipar, Tifa lebih memilih untuk melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya kepada Joko Widodo. Ia yakin bahwa semua ini adalah bagian dari praktik politik yang dilakukan oleh ayah kandung Gibran Rakabuming Raka itu.
“Kekecewaan terbesar saya justru bukan kepada Rismon. Kekecewaan terbesar saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya,” tulisnya.
“Demi menepis tuduhan tentang ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas,” pungkas Tifa.


