HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gerhana bulan selalu berhasil mencuri perhatian publik di berbagai belahan dunia. Fenomena langit ini tak hanya menjadi objek kajian ilmiah, tetapi juga melahirkan beragam mitos, pertanda, hingga cerita kosmis yang diwariskan lintas generasi.
Secara astronomi, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi menutupi satelit alaminya.
Warna kemerahan yang muncul saat puncak gerhana berasal dari pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, fenomena yang sama-sama membuat langit tampak merah saat matahari terbit dan terbenam.
Namun, bagi banyak peradaban kuno, warna merah tersebut bukan sekadar efek optik, melainkan isyarat dari dunia gaib.
Jaguar Langit hingga Raja Pengganti
Di peradaban Inca, bulan yang berubah merah diyakini sedang diserang jaguar langit. Hewan buas itu dipercaya mencoba memakan bulan. Jika tidak diusir, ia diyakini akan turun memangsa manusia.
Untuk menghalaunya, masyarakat berteriak, mengguncang senjata, dan membuat anjing melolong agar kebisingan tersebut menakuti sang jaguar.
Sementara itu, di Mesopotamia kuno, gerhana bulan dipandang sebagai ancaman langsung terhadap raja. Para ahli astronomi saat itu telah mampu memprediksi waktu terjadinya gerhana.
Untuk menghindari nasib buruk, raja asli akan bersembunyi dan menunjuk seorang “raja pengganti” guna menerima dampak buruk yang dipercaya menyertai peristiwa tersebut. Setelah gerhana usai, raja sejati kembali naik takhta.
Rahu dan Kepercayaan di India
Dalam tradisi Hindu, gerhana bulan dikaitkan dengan sosok iblis Rahu yang berhasil meminum ramuan keabadian. Matahari dan bulan yang mengetahui hal tersebut kemudian memenggal kepalanya. Namun karena telah meneguk ramuan tersebut, kepala Rahu tetap hidup dan abadi.
Didorong dendam, ia terus memburu matahari dan bulan untuk menelannya. Ketika ia berhasil menangkap bulan, terjadilah gerhana; bulan seolah tertelan, lalu muncul kembali dari leher Rahu yang telah terpenggal.
Di banyak wilayah India, gerhana bulan juga dipercaya sebagai pertanda kurang baik. Makanan dan air biasanya ditutup rapat, sementara ritual pembersihan dilakukan.
Perempuan hamil dianjurkan untuk tidak makan atau mengerjakan pekerjaan rumah selama gerhana, sebagai bentuk perlindungan bagi janin yang dikandungnya.
Bulan yang “Sakit” dan Harus Disembuhkan
Tak semua kisah gerhana dipenuhi bayangan ancaman. Melansir The Conversation, Suku Hupa dan Luiseño asli Amerika dari California percaya bahwa bulan sedang terluka atau sakit saat gerhana terjadi.
Setelah gerhana, bulan diyakini perlu disembuhkan, baik oleh istri-istri bulan maupun oleh anggota suku. Suku Luiseño, misalnya, akan menyanyikan lagu-lagu penyembuhan ke arah bulan yang gelap sebagai bentuk ritual pemulihan.
Simbol Perdamaian di Afrika
Legenda masyarakat Batammaliba di Togo dan Benin, Afrika, justru memaknai gerhana bulan sebagai pertikaian antara matahari dan bulan. Konflik tersebut dipercaya perlu didamaikan oleh manusia.
Karena itu, momen gerhana dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk mengakhiri perselisihan dan memperbaiki hubungan. Tradisi ini bahkan disebut masih dijaga hingga kini, menjadikan gerhana sebagai simbol rekonsiliasi sosial.
Dalam Perspektif Islam
Dalam budaya Islam, gerhana bulan ditafsirkan tanpa unsur takhayul. Matahari dan bulan dipandang sebagai tanda kebesaran Allah.
Saat gerhana terjadi, umat Islam dianjurkan melantunkan doa-doa khusus, termasuk Salat al-Khusuf atau doa pada gerhana bulan. Ibadah ini bertujuan memohon ampunan serta menegaskan kembali kebesaran Allah.
Antara Sains dan Warisan Budaya
Kini, ketika sains mampu menjelaskan gerhana bulan hingga hitungan detik, pesonanya tetap tidak memudar. Saat bulan memerah, banyak orang masih berhenti sejenak untuk menyaksikan dan merasakan takjub, sebagaimana yang dilakukan leluhur mereka dahulu.
Di antara penjelasan ilmiah dan kisah-kisah lama yang diwariskan turun-temurun, gerhana bulan menunjukkan bahwa manusia selalu berusaha memahami langit dengan bahasa zamannya. Mitos-mitos tersebut pun menjadi cermin bagaimana peradaban membaca dan memaknai alam semesta.


