Sejarah Hari Anak Jakarta Membaca, Tingkatkan Literasi Bangsa

0 Shares

JAKARTA – Hari ini masyarakat Jakarta merayakan Hari Anak Jakarta Membaca (Hanjaba). Peringatan ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali budaya membaca di kalangan generasi muda, khususnya anak-anak dan remaja. Membaca adalah jendela pengetahuan yang membuka wawasan, memperluas imajinasi, dan memperkaya cara berpikir.

Di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat anak-anak lebih dekat dengan gawai dibanding buku, Jakarta memiliki sebuah peringatan khusus untuk mengingatkan pentingnya literasi.

- Advertisement -

Sejarah Hari Anak Jakarta Membaca

Hari Anak Jakarta Membaca diperingati setiap tanggal 24 Agustus setiap tahunnya. Peringatan ini pertama kali diadakan pada 24 Agustus 2006, saat Sutiyoso menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia mencanangkan gerakan ini di Monumen Nasional (Monas) dengan mengumpulkan ribuan anak dari berbagai wilayah Jakarta untuk bersama-sama melakukan aktivitas membaca.

Menurut catatan dalam buku Pada Sebuah Kapal Buku karya Muhidin M. Dahlan (2018), acara perdana tersebut berhasil melibatkan sekitar 5.000 siswa dari tingkat SD hingga SMA. Ribuan anak duduk di kawasan Monas dengan membawa buku, membaca bersama, dan menjadikan momentum ini sebagai simbol kebangkitan budaya literasi di Jakarta. Sejak saat itu, Hari Anak Jakarta Membaca ditetapkan sebagai agenda tahunan dan diperingati setiap tanggal 24 Agustus.

- Advertisement -

Tujuan Peringatan Hanjaba

Tujuan utama dari Hari Anak Jakarta Membaca adalah membangkitkan kembali minat baca anak-anak, terutama di tengah rendahnya tingkat literasi Indonesia. Hanjaba diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa membaca bukan hanya aktivitas akademis, tetapi juga kebutuhan dasar untuk meningkatkan kualitas diri dan daya saing bangsa.

Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk menanamkan kesadaran bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan juga keterampilan memahami, menganalisis, dan mengkritisi informasi.

Kondisi Literasi di Indonesia

Data literasi di Indonesia menunjukkan tantangan besar. Menurut survei World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, Indonesia menempati posisi ke-60 dalam hal tingkat membaca. Sementara itu, data UNESCO yang dikutip oleh Kominfo RI menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, yakni hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki kebiasaan membaca secara rutin.

Ironisnya, di saat minat baca rendah, penggunaan gadget dan media sosial justru sangat tinggi. Riset dari Semiocast, lembaga independen asal Paris, mencatat bahwa Jakarta merupakan kota dengan interaksi terbanyak di media sosial X (Twitter), dengan lebih dari 10 juta cuitan setiap harinya. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingginya interaksi digital dengan rendahnya aktivitas membaca buku.

Di era digital, tantangan literasi semakin besar, namun dengan adanya peringatan seperti Hanjaba, diharapkan generasi muda dapat menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan kebiasaan membaca buku. Membaca tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis, memperkaya kosakata, dan membentuk karakter yang lebih matang.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru