Dari Shakespeare hingga Cervantes, Ini Cerita di Balik Hari Buku Sedunia Tiap 23 April

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dengan perkembangan teknologi yang saat ini makin pesat, buku tetap menjadi fondasi penting dalam membangun pengetahuan, budaya, dan peradaban manusia. Masyarakat dunia setiap tanggal 23 April memperingati Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia.

Peringatan setiap 23 April yang digagas oleh UNESCO sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan buku.

- Advertisement -

Mengutip dari laman UNESCO, tanggal 23 April bukan sekadar seremoni tahunan. Tapi, juga sebagai momentum global untuk menegaskan kembali pentingnya membaca, menulis, dan melindungi karya intelektual.

UNESCO menilai buku sebagai medium yang bisa menghubungkan manusia lintas generasi dan budaya. Hal itu sekaligus membuka wawasan baru bagi pembacanya.

- Advertisement -

“Hari Buku dan Hak Cipta Dunia adalah perayaan untuk mempromosikan kenikmatan buku dan membaca,” demikian dikutip dari laman UNESCO, pada Kamis, (23/4/2026)

Buku bahkan digambarkan sebagai ‘jendela’ menuju dunia lain. Sebab, setiap halaman buku menghadirkan perspektif baru—baik tentang manusia, budaya, maupun ide-ide yang membentuk peradaban.

Jejak Sejarah

Tanggal 23 April dipilih sebagai Hari Buku Sedunia bukan tanpa alasan. Hari tersebut memiliki makna simbolis dalam dunia sastra internasional.

Beberapa tokoh penyair dan novelis besar seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega diketahui meninggal dunia pada tanggal ini.

Dengan nilai historis itu, Konferensi Umum UNESCO pada tahun 1995 menetapkan 23 April sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Sejak saat itu, peringatan ini dirayakan oleh berbagai negara untuk mendorong budaya literasi dan menghargai karya para penulis.

“Setiap tahun, pada tanggal 23 April, perayaan berlangsung di seluruh dunia untuk mengakui cakupan buku – sebuah penghubung antara masa lalu dan masa depan, jembatan antara generasi dan lintas budaya,” demikian keterangan UNESCO.

Salah satu program utama dalam peringatan Hari Buku Sedunia adalah penunjukan Ibu Kota Buku Dunia. Setiap tahun, UNESCO bersama organisasi internasional yang mewakili penerbit, penjual buku, dan perpustakaan memilih satu kota untuk mempromosikan budaya membaca secara luas.

“Memilih Ibu Kota Buku Dunia untuk satu tahun guna mempertahankan, melalui inisiatifnya sendiri, momentum perayaan Hari tersebut,” lanjut laman resmi UNESCO.

Sejak pertama kali dimulai pada 2001 dengan Madrid sebagai kota perdana, program ini terus berkembang. Hingga kini, puluhan kota telah terpilih, termasuk Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026.

Kota-kota tersebut menjalankan berbagai program literasi yang menjangkau semua kelompok usia dan lapisan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Di era digital, saat informasi bisa diakses secara instan, buku tetap memiliki peran unik. Buku tak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memberikan kedalaman pemahaman, refleksi, dan kemampuan berpikir kritis.

UNESCO menekankan bahwa buku, dalam berbagai bentuknya, membantu manusia belajar, memahami dunia, dan tetap terhubung dengan warisan budaya.

Selain itu, perlindungan hak cipta juga menjadi bagian penting dari peringatan ini. Hak cipta memastikan para penulis dan kreator mendapatkan pengakuan atas karya mereka, sekaligus mendorong keberlanjutan industri kreatif global.

Hari Buku Sedunia bukan hanya tentang membaca buku. Namun, juga tentang merayakan ide, kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap buku, terdapat gagasan yang mampu mengubah cara manusia melihat dunia.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru