JAKARTA – Di era di mana koneksi internet cepat menjadi kebutuhan pokok seperti listrik, Alphabet, perusahaan induk Google, memperkenalkan sebuah solusi revolusioner melalui startup miliknya bernama Taara.
Mengusung teknologi internet berbasis sinar laser, Taara menjanjikan konektivitas super cepat dengan infrastruktur minimal tanpa kabel, tanpa satelit, tanpa roket.
Dikenal dengan proyek-proyek futuristiknya, Alphabet kini memamerkan Taara Lightbridges, sistem komunikasi laser yang mentransmisikan data dalam kecepatan tinggi antar titik melalui sinar laser tak kasat mata.
Teknologi ini memungkinkan transmisi data hingga 20 gigabit per detik dalam jarak maksimal 20 kilometer 10 hingga 100 kali lebih cepat dibandingkan layanan internet satelit seperti Starlink.
Bukan Satelit, Bukan Kabel: Ini Cara Kerja Internet Laser Taara
Tidak seperti Starlink yang mengandalkan ribuan satelit di orbit rendah Bumi, Taara menggunakan terminal darat seukuran lampu lalu lintas yang dapat dipasang di atap gedung, menara, hingga pohon tinggi.
Setiap terminal ini saling terhubung melalui sinar laser yang disesuaikan secara otomatis menggunakan sistem pelacakan canggih. Hasilnya, koneksi tetap stabil meski terjadi gangguan visual seperti kabut, hujan ringan, atau pergerakan struktur bangunan.
Keunggulan lain dari teknologi ini adalah waktu pemasangan yang sangat cepat—hanya dalam hitungan jam, dibandingkan infrastruktur kabel fiber optik yang membutuhkan penggalian panjang dan biaya tinggi.
Dampak Lingkungan Rendah, Efisiensi Tinggi
Salah satu kelebihan besar Taara adalah jejak karbon yang sangat kecil. Karena tidak membutuhkan peluncuran satelit atau penggalian jaringan kabel, Taara menjadi solusi internet yang lebih ramah lingkungan, hemat energi, dan minim limbah elektronik.
Beberapa keuntungan yang ditawarkan Taara meliputi:
- Tidak perlu satelit atau peluncuran roket
- Tidak memerlukan penggalian kabel optik
- Konsumsi daya yang rendah
- Dapat diterapkan di medan sulit dan terpencil
Sudah Aktif di 12 Negara
Teknologi ini bukan sekadar konsep, karena Taara sudah digunakan di 12 negara. Salah satu contoh paling menakjubkan adalah di Afrika Tengah, di mana Taara berhasil menghubungkan dua ibu kota besar seperti Brazzaville (Republik Kongo) dan Kinshasa (DR Kongo).
Meskipun hanya terpisah oleh Sungai Kongo, konektivitas digital antar kota ini sebelumnya terhambat karena biaya pemasangan kabel sangat tinggi.
Dengan teknologi laser Taara, 700 terabyte data berhasil ditransmisikan dengan tingkat keandalan uptime 99,99%, menjadikan proyek ini sebagai bukti bahwa internet laser bisa menjadi solusi masa depan yang efisien dan tangguh.
Aplikasi Fleksibel: Dari Festival Musik Hingga Zona Bencana
Fleksibilitas teknologi Taara memungkinkan penggunaannya dalam berbagai situasi—mulai dari acara besar seperti Coachella, layanan kesehatan sementara, edukasi di wilayah terpencil, hingga respons bencana di daerah sulit dijangkau.
Yang menarik, Taara tidak berusaha menjadi pesaing layanan telekomunikasi yang sudah ada, tetapi sebagai pelengkap menyediakan solusi cepat dan kuat di area yang sulit dijangkau oleh kabel atau satelit.
Menuju Masa Depan: Chip Fotonik dan IoT pada 2026
Alphabet mengonfirmasi bahwa pada tahun 2026, Taara akan merilis chip fotonik yang memungkinkan sistem komunikasi laser ini diintegrasikan ke dalam perangkat IoT dan kendaraan otonom. Langkah ini akan membuka era baru konektivitas super cepat dan nyaris tanpa batas untuk segala lini kehidupan.
Dengan teknologi yang lebih cepat dari satelit, lebih fleksibel dari kabel, dan lebih ramah lingkungan dari keduanya, Taara siap menjadi tulang punggung baru internet global. Untuk komunitas yang selama ini terisolasi oleh sungai, rel, atau gunung, sinar laser dari Taara adalah jembatan menuju dunia digital.



