LAMPUNG, HOLOPIS.COM – Pondok Pesantren Sirojud Tholibin, Bandar Lampung, menggelar Diskusi Kebangsaan dalam rangka refleksi menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut menggandeng Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Lampung serta Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan.
Pengasuh Ponpes Sirojud Tholibin, KH Lukman Hakim, mengatakan diskusi tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas tokoh agama, guru ngaji, jamaah majelis taklim, hingga para santri.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian pesantren sekaligus respons atas maraknya penangkapan terduga pelaku terorisme di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Lampung.
“Kami sengaja mengundang Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, karena beliau adalah mantan pelaku yang kini aktif menjadi Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung. Kami berharap beliau dapat menceritakan pengalaman nyata selama bergabung dalam kelompok radikal hingga akhirnya memutuskan keluar dan menjadi pribadi yang moderat,” ujar Lukman Hakim.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PGNI Lampung, Ustaz Amirudin, bersama jajaran pengurus turut memaparkan visi, misi, dan program organisasi. Salah satu program yang dijalankan ialah roadshow kebangsaan sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat.
Selain itu, PGNI juga memperkenalkan portal digital resmi pgni.net yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan data, penyebaran informasi, serta pemberdayaan guru ngaji secara terintegrasi.
“Dengan memanfaatkan teknologi digital, pgni.net membantu meningkatkan kualitas administrasi, transparansi data, serta mempermudah akses informasi bagi seluruh anggota organisasi,” kata Amirudin.
Sementara itu, Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, memaparkan pengalamannya saat masih bergabung dalam kelompok radikal hingga alasan yang membuatnya keluar. Ia juga menjelaskan perkembangan ancaman radikalisme dan terorisme di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung.
Menurut Ken, pola penyebaran paham ekstrem kini telah berubah dan banyak memanfaatkan ruang digital.
“Saat ini ancaman radikalisme dan terorisme ada dalam genggaman gadget. Banyak terduga teroris yang diamankan aparat sebelum melakukan aksi karena propaganda, rekrutmen, dan penghasutan dilakukan melalui platform media sosial,” ujar Ken.
Ia juga menyinggung penangkapan seorang pria berinisial H di Bandar Lampung yang diduga berkaitan dengan propaganda dan rekrutmen jaringan teror.
Lebih lanjut, Ken mengingatkan bahwa radikalisme dan terorisme dapat menyasar siapa saja tanpa memandang usia, tingkat pendidikan, maupun profesi.
“Paham radikalisme dan terorisme itu seperti virus yang bisa menimpa siapa saja. Tidak memandang usia, pendidikan maupun profesi. Semua orang berpotensi terpapar,” katanya.



