HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di banyak negara, Hari Raya Idul Adha identik dengan suasana hangat keluarga, aroma masakan daging kurban, pakaian baru, hingga tawa anak-anak yang bermain bersama. Namun bagi ribuan anak di Gaza, Idul Adha tahun ini kembali dilalui dalam suasana perang, pengungsian, dan kekurangan pangan.
Aboud Halawa, bocah berusia 10 tahun asal Gaza, masih mengingat bagaimana Idul Adha dulu dirayakan bersama keluarganya sebelum perang pecah. Kini, setiap pagi ia justru menghabiskan waktunya membantu sang ayah menarik jala ikan di pelabuhan Gaza City demi bertahan hidup.
“Anak-anak di negara lain merayakan Idul Adha, mengenakan pakaian baru, dan bermain dengan mainan-mainan mereka,” ujar Aboud, dikutip Holopis.com, Rabu (3/6).
“Namun di sini, kami hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan pengungsian. Bahkan saat Idul Adha, tidak ada daging dan tidak ada perayaan yang sesungguhnya,” lanjutnya.
Bagi sekitar satu juta anak di Gaza, Idul Adha kini bukan lagi sekadar momen perayaan, melainkan pengingat atas berbagai hal yang hilang akibat perang, mulai dari rumah, keluarga, hingga rasa aman.
Perayaan Idul Adha tahun ini juga berlangsung menjelang Hari Anak Internasional yang diperingati setiap 1 Juni, di tengah kondisi kemanusiaan yang disebut berbagai organisasi bantuan sebagai salah satu krisis terburuk bagi anak-anak.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 21 ribu anak Palestina dilaporkan tewas sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023. Konflik bermula setelah serangan Hamas ke wilayah selatan Israel yang kemudian dibalas operasi militer Israel di Gaza.
Keluarga Aboud sendiri termasuk salah satu dari banyak warga yang terpaksa mengungsi dari Beit Lahia di Gaza utara. Tradisi Idul Adha yang dulu identik dengan makan bersama keluarga kini tak lagi bisa mereka rasakan.
“Sebelum perang, saya biasanya pergi ke sekolah dan bermain dengan teman-teman di jalanan,” kata Aboud.
“Sekarang hidup saya sudah berbeda. Saya bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ayah saya karena hidup menjadi sangat sulit, dan kami membutuhkan uang untuk bertahan hidup,” sambungnya.
Cerita serupa juga dialami Lojain Mohammed (7), anak perempuan yang kini tinggal bersama keluarganya di rumah kerabat setelah mengungsi dari kawasan al-Nasr, Gaza City.
Lojain mengenang masa kecilnya yang dulu dipenuhi kegiatan sekolah, bermain bersama teman, hingga pergi ke taman hiburan saat Idul Adha. Tahun ini, keinginannya sederhana: memiliki boneka dan kembali bersekolah. Berbagai organisasi bantuan internasional terus memperingatkan dampak psikologis perang terhadap anak-anak Gaza.
Ratusan ribu anak kini tinggal di pengungsian, bangunan rusak, atau rumah kerabat. Banyak dari mereka juga kehilangan orang tua maupun saudara kandung akibat konflik. Selain ancaman perang, anak-anak di Gaza juga menghadapi kelangkaan pangan, air bersih, layanan kesehatan, hingga trauma berkepanjangan.
Di tengah kondisi tersebut, Aboud masih menyimpan harapan untuk masa depannya. Ia mengaku ingin menjadi dokter karena setiap hari melihat banyak orang terluka dan keluarga yang kesulitan bertahan hidup.
“Saya ingin anak-anak di Gaza bisa hidup seperti anak-anak di belahan dunia lainnya,” ucap Aboud.
“Kami ingin bermain, belajar, dan hidup tanpa rasa takut,” tutupnya.




