Dengan cara tersebut, lapangan diharapkan lebih terlindungi ketika air laut kembali menggenangi kawasan Penjaringan.
“Jadi saya minta kepada Dinas Pemuda Olahraga dan juga Sumber Daya Air untuk dihitung kalau permukaannya dinaikkan. Supaya kalau ada rob, rumputnya itu tidak hancur,” katanya.
Persoalan rumput lapangan juga menjadi perhatian dalam rencana revitalisasi.
Pramono menyebut penggunaan rumput sintetis sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk Stadion Kamal Muara.
Pilihan tersebut dinilai relevan mengingat lokasi stadion berada di wilayah pesisir yang memiliki risiko genangan berulang.
Selain mempertimbangkan ketahanan lapangan, penggunaan rumput sintetis juga diharapkan mempermudah pemeliharaan fasilitas olahraga.
“Memang ya kalau untuk penanganan yang lebih baik mungkin rumputnya akan dibuat sintetik, tapi secara prinsip saya setuju untuk dilakukan pembenahan perbaikan di tempat itu,” ungkapnya.
Meski demikian, rencana peninggian permukaan dan penggantian rumput masih harus melalui perhitungan teknis dari dinas terkait.
Kebutuhan anggaran juga perlu disiapkan sebelum pekerjaan revitalisasi dilaksanakan.
Bagi pendukung sepak bola Jakarta Utara, Stadion Kamal Muara bukan sekadar fasilitas olahraga.
Tempat ini pernah menjadi markas Persitara, klub yang memiliki julukan Laskar Si Pitung.
Namun, kondisi stadion yang tidak lagi mendukung penyelenggaraan pertandingan membuat Persitara kini harus menggunakan kandang lain.
Berdasarkan informasi dari akun Instagram resmi Persitara (@persitara_official), klub tersebut memilih Stadion Wibawa Mukti di Kabupaten Bekasi sebagai markas untuk mengarungi kompetisi Liga Nusantara musim 2026/2027.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!