HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat koordinasi dengan TNI dan Polri untuk mengantisipasi potensi banjir selama musim hujan 2026/2027. Langkah tersebut dibahas dalam rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DKI Jakarta, Kamis (5/11).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, rapat tersebut membahas pembagian tugas serta dukungan dari berbagai institusi untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir di Ibu Kota.
“Untuk itu dalam rapat tadi dibahas secara detail apa yang menjadi tugas dan juga sekaligus supporting yang bisa dilakukan oleh seluruh stakeholder institusi yang ada di Jakarta,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, dikutip Holopis.com, Kamis (5/11).
Ia menjelaskan, koordinasi dengan jajaran TNI selama ini telah berjalan baik. Menurutnya, TNI memiliki kesiapan untuk memberikan dukungan apabila Jakarta menghadapi situasi yang membutuhkan penanganan bersama.
“Kalau di TNI itu tanpa dimintapun kalau ada sesuatu pasti mereka akan mempersiapkan secara dini, jadi koordinasi itu kami lakukan dalam sekarang ini dan mudah-mudahan bisa diwujudkan,” ujarnya.
Selain TNI dan Polri, koordinasi tersebut juga melibatkan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Pramono menyebut pihak kejaksaan menyampaikan kesediaan untuk memberikan pendampingan terhadap proses normalisasi sejumlah sungai di Jakarta.
Pendampingan tersebut berkaitan dengan percepatan pengerjaan sungai yang menjadi bagian dari upaya pengendalian banjir. Pemprov DKI menargetkan normalisasi sejumlah sungai dapat terus dikebut hingga Desember 2026.
Beberapa sungai yang menjadi perhatian di antaranya Ciliwung, Angke, Rorotan, dan Cengkareng Drain. Percepatan pengerjaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan infrastruktur pengendali banjir sebelum memasuki puncak musim hujan.
“Sekarang ini sampai dengan bulan Desember Pemerintah DKI Jakarta akan terus tetap untuk melakukan normalisasi sungai-sungai yang ada apakah itu Ciliwung, Angke, Rorok, Cengkareng Drain dan sebagainya akan kita kebut,” ungkap Pramono.
Ia turut mengatakan, berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan tertinggi di Jakarta diperkirakan terjadi pada Februari 2027. Bahkan, hujan ekstrem diperkirakan terjadi pada periode tersebut.
“Hal yang berkaitan dengan antisipasi banjir dari laporan BMKG diperkirakan curah hujan tertinggi pada bulan Februari dan akan ada curah hujan yang ekstrim bahkan,” jelas Pramono.
Ia juga menjelaskan adanya perubahan pola musim hujan yang perlu menjadi perhatian. Menurutnya, fenomena El Nino membuat periode turunnya hujan menjadi lebih singkat, sementara volume curah hujan yang turun tetap sama.
“Karena ada El Nino ini maka curah hujannya menjadi menyempit tapi volumenya sama,” ungkapnya.





💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!