HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kepala BNPB Letjen Suharyanto memerintahkan percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Suharyanto menargetkan seluruh titik api di kawasan lereng Gunung Bromo dapat dipadamkan secara menyeluruh dalam waktu tiga hari.
Instruksi tersebut disampaikan Kepala BNPB saat membuka Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla TNBTS di Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (11/8). Dalam arahannya, Suharyanto menekankan pentingnya dukungan peralatan yang memadai untuk memperkuat efektivitas dan keselamatan personel gabungan yang melakukan pemadaman di medan yang sulit dijangkau.
Suharyanto meminta seluruh sarana dan prasarana penanganan bencana yang tersedia di gudang BPBD segera dimobilisasi, termasuk alat pelindung diri (APD), pompa portabel, serta peralatan pendukung lainnya.
Penggunaan peralatan sederhana seperti gepyok dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi kondisi kebakaran di kawasan dengan medan terjal.
“Penggunaan cara-cara tradisional seperti gepyok harus kita tinggalkan. Kita dukung penuh pasukan darat dari TNI dan tim gabungan dengan perlengkapan modern, APD, serta pompa portabel agar proses pemadaman berjalan efisien dan aman,” kata Suharyanto dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran menjadi salah satu tantangan dalam operasi pemadaman. Untuk mengatasinya, BNPB menyiapkan skenario penempatan kantong air elastis atau flexible tank berkapasitas masing-masing enam ton di sejumlah titik sepanjang jalur darat utama.
Kantong air tersebut akan diisi secara berkala menggunakan helikopter water bombing sehingga dapat menjadi sumber pasokan air bagi personel pemadam di darat. Skema ini diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman sekaligus mendukung pembasahan area yang telah terbakar guna mencegah munculnya kembali titik api.
Suharyanto memastikan pihaknya telah telah memobilisasi tiga unit helikopter untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara di kawasan TNBTS. Penggunaan armada water bombing menjadi salah satu strategi utama mengingat kondisi medan yang curam dengan kemiringan lereng yang mencapai sekitar 80 derajat sehingga menyulitkan akses personel dan peralatan pemadaman melalui jalur darat.
Sementara itu, upaya pemadaman melalui hujan buatan atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan karena belum terdapat pertumbuhan awan hujan yang memadai di sekitar kawasan TNBTS.
“Kita manfaatkan cuaca cerah dan optimalkan pemadaman udara (water bombing) sampai sore hari. Kita patok target, paling lambat Jumat seluruh titik api sudah padam sehingga armada pemadaman udara dapat dialokasikan untuk membackup penanganan bencana di titik rawan lainnya,” jelasnya.
Pada Selasa (11/8), operasi water bombing difokuskan pada satu titik kebakaran di Pusung Duwur, wilayah Dingklik. Selain menjatuhkan air untuk memadamkan api, operasi juga diarahkan untuk membasahi area yang sebelumnya terbakar guna mengurangi potensi munculnya kembali titik api.
Kepala BNPB juga mengingatkan Pemerintah Daerah dan unsur satuan tugas penanganan karhutla di Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran ke kawasan gunung di sekitar TNBTS, termasuk Gunung Arjuno.



