Menurut Ken, aksi teror dewasa ini tidak selalu dilatarbelakangi ideologi agama. Sejumlah kasus justru dipicu persoalan psikologis seperti perundungan (bullying), kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home), hingga pencarian identitas di dunia maya.
Ia mencontohkan berbagai kasus kekerasan ekstrem dan ancaman bom yang dikaitkan dengan True Crime Community (TCC) di sejumlah sekolah di Indonesia. Menurutnya, fenomena tersebut bukan berasal dari jaringan terorisme konvensional maupun motif keagamaan, melainkan dipicu luka psikologis akibat perundungan.
“TCC bukanlah kelompok agama, melainkan komunitas daring transnasional yang mengagumi kasus kriminal nyata, pembunuhan berantai, dan penembakan massal,” jelasnya.
Ken menerangkan, anak-anak yang mengalami tekanan psikologis kerap mencari pelarian di ruang digital. Dalam kondisi tersebut, mereka berisiko bergabung dengan komunitas TCC yang justru memvalidasi kemarahan, mengglorifikasi kekerasan, bahkan memberikan tantangan untuk melakukan aksi nyata.
“Alih-alih mendapat doktrin agama, mereka justru terpapar ideologi ekstrem dari Barat seperti neo-Nazi dan white supremacy. Mereka menggunakan simbol-simbol militer, mengoleksi senjata rakitan, hingga merencanakan serangan atas dasar glorifikasi kekerasan dan kebencian sosial,” ujarnya.
Ken mengungkapkan, ratusan anak yang pernah diamankan aparat karena diduga terkait aktivitas TCC mayoritas masih berusia di bawah 18 tahun dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Lampung.
Ia menyebut sebagian besar remaja yang terlibat dalam berbagai kasus, seperti ancaman bom di SMK 72 Jakarta, pelemparan bom molotov di Kalimantan Barat, hingga ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang, merupakan korban perundungan berat maupun memiliki persoalan keluarga.
“Rasa sakit hati, dikucilkan, serta masalah internal keluarga melahirkan keinginan untuk membalas dendam kepada sekolah, guru, maupun teman sebaya,” katanya.
Karena itu, Ken menilai orang tua dan lingkungan terdekat, termasuk guru ngaji, merupakan garda terdepan dalam mencegah penyebaran paham ekstrem.
Ia mengimbau para orang tua untuk memantau aktivitas digital anak, terutama jika mulai aktif mengakses platform privat seperti Discord, grup Telegram, WhatsApp tertutup, forum anonim, maupun gim yang kerap dijadikan media komunikasi kelompok ekstrem.
Selain itu, orang tua juga diminta peka terhadap perubahan perilaku anak sebagai bagian dari deteksi dini, seperti enggan bersekolah, tiba-tiba membangkang kepada orang tua, mengurung diri, menghabiskan waktu di depan gawai, mengalami gangguan tidur, hingga mulai mengoleksi simbol-simbol kekerasan atau militer.
Terakhir, Ken menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka di lingkungan keluarga.
“Bangun komunikasi tanpa menghakimi agar rumah menjadi ruang aman bagi anak untuk bercerita. Validasi emosi mereka ketika merasa disakiti di sekolah agar mereka tidak mencari validasi palsu dari komunitas ekstrem di media sosial,” ujarnya.



