JAKARTA, HOLOPIS.COM – Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 diperkirakan akan semakin dinamis dengan munculnya sejumlah figur baru dari kalangan kepala daerah. Kondisi tersebut dinilai dapat memperkaya pilihan masyarakat sekaligus memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, mengatakan demokrasi akan berkembang lebih sehat apabila masyarakat dihadapkan pada lebih banyak alternatif calon pemimpin yang memiliki kapasitas dan rekam jejak yang baik.
“Demokrasi membutuhkan pilihan. Semakin banyak figur yang memiliki kapasitas untuk tampil, semakin baik bagi kualitas demokrasi kita,” ujar Arifki dalam keterangannya, Selasa (5/8/2026).
Menurut Arifki, pengalaman politik nasional menunjukkan bahwa jabatan kepala daerah kerap menjadi batu loncatan menuju panggung politik nasional. Ia mencontohkan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang mengawali karier politiknya sebagai Wali Kota Solo sebelum menjadi Presiden, serta Anies Baswedan yang berhasil menjadi salah satu kontestan utama Pilpres setelah memimpin Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Berkaca dari pengalaman tersebut, Arifki menilai sejumlah kepala daerah yang kini memimpin wilayah strategis mulai masuk dalam radar publik sebagai figur potensial menjelang Pilpres 2029. Di antaranya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
“Memimpin daerah strategis merupakan modal politik yang penting dan momentum itu yang dirasakan Anies Baswedan dan Ridwan Kamil menjelang Pilpres 2024. Tetapi itu baru langkah awal, tantangan berikutnya adalah bagaimana membangun kapasitas, rekam jejak, dan kepercayaan publik di tingkat nasional,” katanya.
Ia menambahkan, tiga tahun menjelang Pilpres menjadi fase krusial bagi para kepala daerah untuk membuktikan kualitas kepemimpinannya. Menurutnya, masyarakat akan lebih menilai hasil kerja nyata dibandingkan sekadar pencitraan politik.
“Yang dibutuhkan sekarang bukan kampanye, melainkan karya dan memanfaatkan momentum. Kepala daerah yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan publik ketika berbicara di level nasional,” ujar Arifki.
Lebih lanjut, Arifki menilai semakin banyak kepala daerah yang berhasil menunjukkan prestasi selama memimpin daerahnya, maka semakin besar pula pilihan yang dimiliki masyarakat dalam menentukan pemimpin nasional pada masa mendatang.
“Pada akhirnya, demokrasi tidak membutuhkan sedikit pilihan, tetapi membutuhkan banyak pilihan yang sama-sama berkualitas. Kompetisi yang sehat akan menghadirkan pemimpin terbaik bagi Indonesia dan proses itu sudah pernah kita lalui di Pilpres sebelumnya,” tutup Arifki.


