“Yang sekolah lain dikirim lebih pagi, jadi makanannya masih fresh dan masih baik,” ujarnya.
Fakta tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tim investigasi belum mengambil kesimpulan.
Sebab, dapur yang sama juga melayani beberapa sekolah lain, tetapi tidak ditemukan laporan dugaan keracunan dari lokasi tersebut.
Data sementara menunjukkan sebanyak 707 orang mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru.
Mayoritas korban mengalami gejala seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Beruntung, sebagian besar hanya memerlukan penanganan di lingkungan sekolah.
Sebanyak 698 orang mendapat penanganan medis di lokasi, sedangkan 9 orang dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk menjalani observasi lebih lanjut. Mereka dirawat di Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, serta Puskesmas Bangetayu.
Sudaryono mengatakan dirinya telah mengunjungi langsung para korban yang menjalani perawatan di rumah sakit. Dari hasil pemantauan tersebut, kondisi para pasien terus membaik.
“Alhamdulillah tadi sudah kita tengok, kondisinya sudah baik,” katanya.
BGN juga membeberkan kronologi pengolahan makanan berdasarkan hasil investigasi awal. Bahan baku seperti ayam, tahu, sayuran, buah, dan bumbu diterima secara bertahap pada Rabu (29/7/2026) mulai siang hingga sore hari. Seluruh bahan kemudian disimpan di gudang basah maupun lemari pembeku sesuai jenisnya.
Proses persiapan dimulai pada malam hari dengan mencuci bahan, mengukus tahu, serta memarinasi ayam selama sekitar satu jam. Setelah itu ayam digoreng hingga hampir tengah malam.
Memasuki Kamis dini hari, petugas melanjutkan proses memasak bumbu rendang, sayuran, dan menu lainnya. Sebelum dikemas, makanan terlebih dahulu diperiksa oleh ahli gizi melalui uji organoleptik dan pengecekan gramasi sekitar pukul 04.00 WIB.
Distribusi makanan dilakukan dalam dua tahap, yakni sekitar pukul 06.00 WIB dan pukul 08.10 WIB menuju sejumlah sekolah penerima Program MBG.


