Keyakinan menganggap sesuatu, masa, tempat, atau tanda alam sebagai penentu nasib buruk dikenal dalam Islam dengan istilah Tathayyur atau Thiyarah. Islam datang untuk menghapus keyakinan-keyakinan takhayul semacam ini dan menggantinya dengan tauhid yang murni serta optimisme iman.
Jamaah yang berbahagia,
Rasulullah SAW secara tegas telah membantah keyakinan salah paham mengenai bulan Safar ini dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ
Artinya: “Tidak ada penularan penyakit (secara mandiri tanpa takdir Allah), tidak ada kesialan pada burung (tathayyur), tidak ada kesialan pada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Dan lari-lah kamu dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa.” (HR. Bukhari no. 5707 dan Muslim no. 2220)
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif menjelaskan bahwa masyarakat Jahiliyah menganggap bulan Safar sebagai bulan sial. Maka Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa Safar adalah bulan biasa sebagaimana bulan-bulan lainnya dalam kalender Islam. Tidak ada takdir buruk yang melekat khusus pada bulan Safar. Semua hari, minggu, dan bulan adalah ciptaan Allah SWT.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Setiap kebaikan atau keburukan, rezeki atau musibah yang menimpa manusia, semuanya terjadi berdasarkan ketetapan (takdir) dan izin Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu tertentu. Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 51:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad): ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.'” (QS. At-Taubah: 51)
Jika kita meyakini bahwa suatu bulan dapat mendatangkan musibah dengan sendirinya tanpa takdir Allah, maka hal itu dapat mencederai keimanan dan ketauhidan kita. Sebaliknya, yang mendatangkan musibah dan keburukan dalam hidup kita sebenarnya adalah perbuatan dosa dan kemaksiatan kita sendiri, bukan bulan atau harinya.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura ayat 30:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ


