JAKARTA – Kabar duka menyelimuti tanah air pada Jumat dini hari, 10 Juli 2026. Salah satu putra terbaik bangsa, Rachmat Gobel, telah dipanggil pulang ke hadirat Allah SWT. Kepergian tokoh nasional yang dikenal santun dan berdedikasi ini menyisakan kesedihan mendalam. Namun, di balik rasa kehilangan tersebut, ada secercah penghiburan dan rasa syukur yang besar bagi seorang muslim: beliau berpulang di hari Jumat.
Di mana Gobel telah dipanggil pulang ke hadirat Allah SWT. Beliau wafat pada waktu subuh, sebuah pergantian waktu yang sakral di dalam hari yang paling agung.
Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dimajukan maupun dimundurkan barang sedetik pun oleh manusia. Bagi setiap makhluk yang bernyawa, misteri terbesar bukanlah tentang apakah ia akan mati, melainkan kapan, di mana, dan dalam kondisi seperti apa ajal itu akan menjemput. Dalam sudut pandang iman seorang muslim, akhir kehidupan atau yang sering kita sebut sebagai khusnul khotimah adalah cita-cita tertinggi. Di antara tanda-tanda kebaikan akhir hayat yang sangat dirindukan adalah ketika Allah SWT memilih waktu berpulangnya seorang hamba di hari yang paling mulia, yaitu hari Jumat.
Kepergian tokoh nasional yang dikenal santun, bersahaja, dan penuh dedikasi bagi kemajuan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat ini tentu menyisakan rasa kehilangan yang mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh masyarakat Indonesia. Namun, bagi seorang muslim, di balik air mata kesedihan itu selalu ada secercah penghiburan yang agung. Kepergian almarhum di penghujung malam menuju fajar hari Jumat membawa sebuah ketenangan spiritual, mengingat syariat Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa bagi siapa saja yang mengembuskan napas terakhirnya di hari tersebut.
Hari Jumat Sebagai Sayyidul Ayyam
Untuk memahami mengapa wafat di hari Jumat dianggap sebagai sebuah kenikmatan yang besar, kita harus menilik terlebih dahulu bagaimana Islam memandang hari Jumat itu sendiri. Hari Jumat bukanlah hari biasa. Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan menyebut hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam, yang berarti rajanya hari atau pemimpin dari semua hari dalam sepekan.
Pada hari inilah Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS, pada hari ini pula Nabi Adam dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari Jumat pula beliau dikeluarkan dari surga untuk mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. Tidak hanya itu, peristiwa paling dahsyat dalam sejarah alam semesta, yaitu hari kiamat, juga dipastikan akan terjadi pada hari Jumat. Begitu agungnya hari ini, sampai-sampai Allah SWT secara khusus mengabadikan nama hari ini menjadi salah satu nama surah di dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Jumu’ah.
Sepanjang hari Jumat, dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, bumi dipenuhi dengan pancaran rahmat dan keberkahan. Pintu-pintu langit dibuka lebar, ampunan Allah bertebaran bagi hamba-hamba-Nya yang memohon ampun, dan terdapat satu waktu singkat di mana setiap doa yang dipanjatkan oleh seorang mukmin pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, segala aktivitas ibadah maupun takdir kebaikan yang diletakkan Allah pada hari Jumat memiliki bobot dan nilai spiritual yang jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari lainnya.
Dalil Syariat: Perlindungan dari Fitnah Kubur
Keistimewaan meninggal dunia di hari Jumat bukanlah sebuah mitos, melainkan memiliki landasan dalil yang kuat di dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW secara eksplisit memberikan kabar gembira kepada umatnya mengenai nasib beruntung bagi mereka yang dijemput ajalnya pada hari atau malam Jumat.
Dalil yang paling masyhur mengenai hal ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berikut:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Teks Latin:
“Maa min muslimin yamootu yawmal-jumu’ati aw laylatal-jumu’ati illaa waqaahullaahu fitnatal-qabr.”
Terjemahannya:
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksaan) kubur.” (HR. Tirmidzi, no. 1074)
Secara derajat hadis, meskipun sebagian ulama masa lalu mendiskusikan sanadnya, pakar-pakar hadis kontemporer seperti Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini berstatus Hasan Lighairihi (baik dan kuat karena didukung oleh jalur-jalur periwayatan lain yang saling menguatkan). Oleh karena itu, hadis ini sah digunakan sebagai dasar keyakinan dalam fadhailul a’mal (keutamaan amal dan takdir).
Fitnah kubur yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ujian berupa pertanyaan-pertanyaan menegangkan dari malaikat Munkar dan Nakir, serta siksaan awal di alam barzakh sebelum datangnya hari kebangkitan. Alam kubur adalah fase pertama dari perjalanan akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa jika seseorang selamat di alam kuburnya, maka perjalanan setelahnya akan terasa lebih mudah. Sebaliknya, jika ia tersiksa di alam kubur, maka fase berikutnya akan jauh lebih berat. Maka, ketika Allah SWT memberikan jaminan perlindungan dari fitnah kubur bagi mereka yang wafat di hari Jumat, itu adalah sebuah “pintu tol” kemudahan yang luar biasa menuju surga-Nya.
Menelaah Hakikat “Nikmatnya” Meninggal di Hari Jumat
Bagi mata manusia yang awam, kematian selalu tampak mengerikan dan penuh penderitaan. Namun, bagi ruh yang bertakwa, kematian adalah momen pertemuan yang dinanti-nantikan dengan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Mengapa wafat di hari Jumat dirasakan begitu nikmat dan patut dicemburui oleh sesama muslim? Ada beberapa alasan teologis dan sosial yang mendasarinya:
1. Pembelaan dan Doa dari Ribuan Jemaah
Hari Jumat adalah waktu di mana umat Islam di seluruh dunia diwajibkan untuk berkumpul di masjid-masjid guna melaksanakan salat Jumat. Ketika seorang muslim wafat di hari Jumat, kemungkinan besar jenazahnya akan disalatkan setelah pelaksanaan salat Jumat. Ini berarti, jenazah tersebut akan mendapatkan limpahan doa dari ratusan, ribuan, bahkan jutaan jemaah yang sedang berada dalam kondisi suci, baru saja mendengarkan khotbah, dan berada dalam majelis ibadah yang mulia. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika sebuah jenazah disalatkan oleh sekumpulan kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seratus orang atau lebih dan mereka semua mendoakan kebaikan baginya, maka syafaat (doa) mereka akan dikabulkan oleh Allah SWT.
2. Ketenangan Tanpa Pemeriksaan yang Menakutkan
Berdasarkan penjelasan para ulama, salah satunya Imam Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, perlindungan dari fitnah kubur berarti bahwa orang yang meninggal di hari Jumat tidak akan ditanya dengan cara yang membingungkan atau menakutkan oleh malaikat di dalam kubur. Ada pula ulama yang berpendapat bahwa mereka tetap ditanya, namun Allah SWT memberikan keteguhan iman dan lisan yang lancar sehingga mereka dapat menjawabnya dengan sangat mudah tanpa merasakan ketakutan sedikit pun. Hal ini tentu menjadi kenikmatan yang luar biasa, mengingat alam kubur adalah tempat yang asing dan gelap bagi manusia.
3. Tanda Nyata Husnul Khotimah
Dalam kitab Ahkamul Janaiz, Syaikh Al-Albani memasukkan wafat di hari atau malam Jumat sebagai salah satu dari sekian banyak tanda khusnul khotimah. Ketika Allah SWT memilih waktu terbaik untuk mencabut nyawa seorang hamba, itu adalah isyarat bahwa hamba tersebut sedang berada dalam radar rida dan kasih sayang Allah SWT. Ia diistimewakan dari miliaran manusia lainnya untuk menutup lembaran hidupnya di dunia pada hari yang paling dicintai oleh-Nya.
Hubungan Kematian, Amal Saleh, dan Takdir Allah
Meskipun meninggal di hari Jumat memiliki keutamaan yang sangat besar, kita sebagai umat Islam harus tetap bijaksana dalam memahaminya. Waktu kematian adalah murni hak prerogatif dan takdir dari Allah SWT. Manusia tidak bisa memesan hari kematiannya sendiri. Oleh karena itu, keutamaan meninggal di hari Jumat ini adalah sebuah anugerah, bonus, dan hadiah langsung dari Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya.
Keutamaan ini tentu saja berbanding lurus dengan kualitas keimanan seseorang selama hidup di dunia. Hadis tersebut secara tegas menyebut kata “Maa min muslimin” (Tidaklah seorang muslim…). Artinya, keutamaan perlindungan dari fitnah kubur ini dikhususkan bagi mereka yang menjaga akidah Islamnya dengan baik, berserah diri kepada Allah, dan berusaha menjauhi larangan-Nya sepanjang hidup. Kematian yang indah di hari yang indah adalah cerminan dari kehidupan yang diisi dengan kebaikan-kebaikan.
Pulangnya Rachmat Gobel di hari Jumat ini menjadi pengingat yang sangat berharga bagi kita yang masih diberikan kesempatan hidup di dunia. Tokoh yang sepanjang hidupnya dikenal banyak memberikan sumbangsih nyata bagi bangsa, menggerakkan roda ekonomi, dan membantu banyak hajat hidup orang banyak ini, seolah-olah dipanggil pulang dengan senyuman takdir-Nya. Lembaran amalnya di dunia telah ditutup dengan rapi, dan Allah memberikannya hadiah berupa waktu kepulangan yang sangat indah di hari Jumat.
Kematian tokoh-tokoh bangsa di waktu-waktu terbaik harusnya memicu kesadaran di dalam diri kita. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang sementara (darul imtihan atau tempat ujian). Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, dan popularitas yang mendunia, semuanya akan melepuh dan tak lagi berguna ketika tubuh kita diturunkan ke liang lahat yang sempit. Pada saat itu, tidak ada yang dapat menemani kita selain hamparan kain kafan yang membungkus badan dan amal-amal saleh yang pernah kita tabur semasa hidup.
Meneladani dan Mempersiapkan Diri
Kita tidak pernah tahu di hari apa kita akan mati. Bisa jadi hari Senin, Rabu, atau mungkin juga hari Jumat seperti almarhum Rachmat Gobel. Tugas utama kita sebagai hamba Allah bukanlah menyibukkan diri menebak-nebak hari kematian, melainkan mempersiapkan kualitas iman kita agar kapan pun ajal itu datang mengetuk pintu, kita berada dalam kondisi terbaik (itba’ur rasul dan istiqamah).
Ada beberapa amalan yang diajarkan oleh para ulama agar kita senantiasa mendapatkan akhir hidup yang baik (khusnul khotimah), di antaranya:
Menjaga Salat Lima Waktu: Salat adalah tiang agama dan amalan yang pertama kali akan dihisab. Seseorang yang menjaga salatnya dengan konsisten cenderung akan dijaga oleh Allah di akhir hayatnya.
Memperbanyak Amal Jariah dan Kebaikan Sosial: Belajar dari sosok almarhum yang banyak berkiprah di dunia kemanusiaan dan ekonomi, kebermanfaatan kita bagi manusia lain (anfauhum linnas) adalah magnet datangnya rida Allah SWT.
Merutinkan Doa Memohon Khusnul Khotimah: Jangan pernah bosan meminta kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan muslim dan dikumpulkan bersama orang-orang yang saleh.
Sebagai penutup, mari kita bersama-sama menundukkan kepala, mendoakan almarhum Rachmat Gobel yang telah mendahului kita di hari Jumat yang penuh berkah ini. Semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikannya, mengampuni segala kekhilafan dan dosanya, melapangkan serta menerangi alam kuburnya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan semoga kita yang masih menapakkan kaki di bumi ini, kelak dianugerahi akhir hayat yang manis, diringankan saat sakaratul maut, dan diselamatkan dari dahsyatnya fitnah kubur.


