Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan sektor peternakan masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.
“Papua membutuhkan keseriusan. Jangan hanya konsep, tetapi benar-benar hadir membangun industri unggas di Papua agar masyarakat mendapatkan ayam dan telur dengan harga yang terjangkau,” kata Febiola.
Ia mengungkapkan kelompok masyarakat di Papua telah memulai pembangunan pabrik pakan berbasis bahan baku lokal secara mandiri.
Karena itu, ia berharap pemerintah, GPPU, dan BUMN dapat memperkuat kolaborasi sehingga Papua menjadi bagian penting dalam pengembangan industri unggas nasional.
Melalui pembangunan sentra unggas baru di Indonesia Timur, pemerintah berharap disparitas harga ayam dan telur dapat ditekan, distribusi protein hewani menjadi lebih merata, serta kesejahteraan peternak rakyat meningkat.
Program tersebut juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang Kementan untuk membangun industri perunggasan nasional yang lebih berimbang, berdaya saing, dan tidak lagi bergantung pada satu kawasan produksi semata.



