“Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apa pun saya tidak mau sendiri. Harus dua Waka ikut paraf, baru saya mau tanda tangan,” katanya.
Tak hanya itu, setiap kali sekretaris pribadinya membawa tumpukan dokumen untuk ditandatangani, ia mengaku langsung merasa panik.
“Setiap kebijakan saya tanya berulang-ulang. Bahkan kalau sepri saya bawa tumpukan dokumen saya sudah parno duluan dan badan panas dingin, akibatnya saya ambruk,” tulisnya.
Pengalaman tersebut membuat Nanik mengaku trauma apabila kembali dipercaya menduduki jabatan publik yang berkaitan langsung dengan pengelolaan anggaran negara.
Menurutnya, tekanan psikologis yang dirasakan jauh lebih berat dibandingkan tantangan teknis dalam menjalankan program.
Ia menyebut rasa takut terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan anggaran membuat dirinya kehilangan waktu istirahat dan terus dihantui kecemasan.
Kondisi itu pada akhirnya berdampak pada kesehatan fisik hingga dokter memvonis dirinya mengalami penyakit jantung koroner.
Usai mengundurkan diri, Nanik mengatakan akan fokus menjalani pemulihan kesehatan. Salah satu alasannya mengajukan pengunduran diri adalah agar dapat menjalani pengobatan ke luar negeri tanpa harus dibebani tanggung jawab sebagai pejabat negara.
Ia juga menyatakan telah menyerahkan tugas kepemimpinan kepada dua Wakil Kepala BGN, yakni Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono.
Dengan keputusan tersebut, tongkat estafet kepemimpinan Badan Gizi Nasional untuk sementara akan dijalankan oleh jajaran pimpinan yang ada hingga pemerintah menentukan langkah berikutnya.
Pengunduran diri Nanik menjadi sorotan publik karena terjadi di tengah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mengelola anggaran negara dalam jumlah sangat besar dan menyasar jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia.



