Selisih tersebut menunjukkan produsen masih menghadapi tekanan biaya meskipun pemerintah telah menaikkan harga jual dibandingkan skema sebelumnya.
Tantangan tersebut diperkirakan semakin besar setelah implementasi B50 berjalan penuh.
IPOSS memperkirakan konsumsi minyak sawit domestik pada kuartal III 2026 mencapai sekitar 7,2 juta ton atau meningkat 12,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari jumlah tersebut, sekitar 4,25 juta ton atau hampir 60 persen akan diserap oleh sektor biodiesel.
Di saat bersamaan, produksi nasional diproyeksikan mencapai sekitar 37,1 juta ton hingga akhir kuartal III 2026, sementara ekspor diperkirakan turun menjadi sekitar 4,3 juta ton karena semakin besarnya kebutuhan dalam negeri.
Kondisi tersebut membuat ruang pasokan CPO menjadi semakin ketat.
IPOSS menilai tantangan pemenuhan DMO minyak goreng pun akan semakin kompleks, terutama jika kebutuhan domestik terus meningkat.
Selain itu, penurunan ekspor juga diperkirakan akan mengurangi kebutuhan produsen terhadap hak ekspor yang selama ini diperoleh setelah memenuhi kewajiban DMO.
Jika insentif tersebut melemah, dorongan produsen untuk menyalurkan minyak goreng melalui skema DMO juga berpotensi ikut menurun.
Meski begitu, IPOSS menegaskan bahwa ancaman terhadap pasokan MinyaKita bukan semata-mata disebabkan oleh meningkatnya konsumsi CPO untuk B50.
Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada tata kelola distribusi.
Saat ini jalur distribusi MinyaKita masih melibatkan banyak mata rantai sehingga pengawasan menjadi lebih sulit dilakukan.
Akibatnya, pasokan yang secara administrasi dinyatakan tersedia belum tentu benar-benar sampai ke tangan konsumen dengan harga sesuai HET.


