HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bukan El Nino, air asin menjadi ancaman terbesar sawah Merauke. Telat tanam sedikit saja, petani berisiko gagal panen dan kehilangan musim tanam.
Selama ini banyak yang menganggap El Nino menjadi ancaman utama bagi sektor pertanian.
Namun, kondisi berbeda justru dialami petani di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Di kawasan sawah pasang surut, musuh terbesar bukanlah cuaca panas, melainkan datangnya air asin yang dapat menghentikan musim tanam.
Petani di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Angga Dwi Hardianto, mengatakan hujan memang sudah tidak turun selama sekitar dua bulan.
Namun, menurutnya, selama air pasang masih tawar, sawah tetap dapat memperoleh pasokan air untuk pertumbuhan tanaman.
“Kalau normalnya, sebenarnya sudah kita rasakan panas, sudah dua bulan nggak ada hujan,” ujar Angga.
Ia menjelaskan sistem pengairan di Merauke mengandalkan pasang surut sungai.
Karena itu, ancaman terbesar bukan semata kekeringan, melainkan perubahan kualitas air yang menjadi asin saat memasuki puncak musim kemarau.
“Di sini tergantung pengairan ikut kali. Air pasang surut. Selama airnya belum asin, pengairan tetap aman,” katanya.
Menurut Angga, pemerintah terus mendorong petani mempercepat masa tanam.
Langkah tersebut dilakukan agar panen dapat berlangsung sebelum air mulai berubah asin yang biasanya terjadi pada Agustus hingga September.
“Makanya pemerintah selalu menyuruh tanam cepat. Kalau terlambat sedikit, sekarang tanam misalnya, kemungkinan tidak bisa panen. Perkiraan Agustus air sudah asin kalau cuacanya seperti sekarang,” ungkapnya.
Ia menambahkan sebagian besar petani memilih mulai menanam sejak April agar panen bisa dilakukan pada akhir Juli hingga Agustus, sebelum kadar garam di saluran air meningkat.
“Akhir bulan tujuh sudah ada yang panen,” ujarnya.
Menurut Angga, setelah air berubah asin, petani praktis tidak bisa lagi memulai musim tanam baru.
Mereka harus menunggu musim rendengan yang biasanya datang sekitar Desember.
“Tidak bisa tanam lagi kalau air sudah asin. Nanti mulai lagi musim rendengan sekitar Desember,” katanya.
Meski kemarau mulai terasa, Angga mengaku belum khawatir tanamannya mengalami puso.
Sebab, umur tanaman saat ini sudah memasuki dua bulan dan diperkirakan dapat dipanen sebelum intrusi air asin terjadi.
“Kalau untuk kekhawatiran puso tidak ada. Tanaman sudah umur dua bulan, jadi kemungkinan satu bulan lagi sudah panen,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry, mengakui karakter lahan Merauke memang berbeda dibandingkan sentra pertanian lain di Indonesia.
Menurut Fadjry, kawasan tersebut merupakan lahan pasang surut tipe C sehingga pola tanam harus disesuaikan dengan dinamika pasang surut air.
“Kalau di sini lahan pasang surut tipe C. Biasanya Agustus sampai akhir September airnya sudah asin. Makanya kita gunakan juga varietas-varietas yang lebih toleran terhadap asin,” kata Fadjry.
Ia menambahkan, tantangan pertanian di Merauke tidak hanya terkait salinitas air, tetapi juga kondisi agroekosistem dan serangan hama yang berbeda dengan daerah beririgasi teknis seperti di Pulau Jawa.
Karena itu, pendekatan budidaya harus disesuaikan dengan karakter wilayah.
Dengan kondisi tersebut, ketepatan kalender tanam menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan produksi padi di Merauke.
Petani bukan hanya memperhitungkan benih, pupuk, maupun cuaca, tetapi juga harus berpacu dengan waktu sebelum air pasang berubah menjadi asin.
Di tengah upaya pemerintah menjadikan Merauke sebagai salah satu lumbung pangan nasional melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan, pengelolaan waktu tanam menjadi kunci agar target peningkatan produksi beras dapat tercapai tanpa terganggu oleh ancaman air asin.


