Kelapa Tak Lagi Cuma Dijual Mentah, Temu Teknologi PENAS XVII Bongkar Cara Naikkan Nilai Jual hingga Berkali Lipat

0 Shares

GORONTALO, HOLOPIS.COMPENAS XVII Gorontalo membongkar peluang besar di balik kelapa, dari budidaya hingga hilirisasi yang bisa mendongkrak pendapatan petani.

Komoditas kelapa dinilai tak lagi cukup dijual dalam bentuk mentah jika ingin memberi keuntungan lebih besar bagi petani.

Lewat forum Temu Teknologi Kelapa dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (23/6/2026), peserta diajak membedah cara meningkatkan nilai jual kelapa melalui perbaikan budidaya hingga hilirisasi produk.

Forum yang digelar Direktorat Jenderal Perkebunan bersama BRMP Perkebunan Kementerian Pertanian itu menjadi salah satu kegiatan yang menyedot perhatian pada hari ketiga pelaksanaan PENAS XVII.

Sekitar 160 peserta yang terdiri dari petani, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, hingga kontingen dari berbagai daerah memadati ruang kegiatan.

Tak sekadar membahas teknik menanam, forum ini menyoroti satu hal penting: kelapa memiliki potensi ekonomi jauh lebih besar jika tidak hanya dijual sebagai bahan baku, melainkan diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.

- Advertisement -

Penyuluh Pertanian BRMP Perkebunan, R. Dani Medionovianto, yang memoderatori kegiatan tersebut, mengatakan forum teknologi seperti ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus solusi praktis yang bisa diterapkan petani di daerah masing-masing.

“Melalui kegiatan seperti ini, petani tidak hanya mendapat pengetahuan teknis, tetapi juga wawasan baru tentang bagaimana komoditas kelapa bisa dikembangkan lebih jauh agar memberi nilai ekonomi lebih besar,” ujar Dani saat membuka forum.

Materi pertama disampaikan Yulianus R. Matana dengan topik budidaya dan pemeliharaan tanaman kelapa.

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa peningkatan hasil panen sangat ditentukan oleh kualitas benih, teknik penanaman, hingga konsistensi pemeliharaan kebun.

Menurut Yulianus, penguatan sektor hulu menjadi fondasi penting untuk menghasilkan kebun kelapa yang produktif dan berkelanjutan.

Budidaya yang dilakukan dengan baik sejak awal akan berdampak langsung pada kuantitas maupun kualitas hasil panen.

“Produktivitas kelapa sangat dipengaruhi kualitas benih dan teknik pemeliharaan tanaman. Kalau budidaya dilakukan dengan benar sejak awal, hasil yang diperoleh petani juga bisa jauh lebih optimal,” kata Yulianus.

Ia menjelaskan, pengelolaan kebun kelapa tak bisa lagi dilakukan secara tradisional tanpa perencanaan.

Pemilihan bibit unggul, pola tanam, pemupukan, pengendalian gulma, hingga perawatan rutin menjadi faktor yang menentukan hasil akhir.

Namun perhatian peserta tak berhenti pada urusan budidaya.

Materi yang paling memantik diskusi datang dari Dr. Patrik M. Pasang yang membahas hilirisasi kelapa dan peluang usaha dari produk turunannya.

Dalam paparannya, Patrik menegaskan bahwa kelapa merupakan komoditas dengan spektrum pemanfaatan sangat luas.

Jika selama ini petani cenderung menjual kelapa dalam bentuk utuh atau bahan mentah, maka ke depan pola itu harus mulai diubah agar petani tidak hanya bergantung pada harga pasar bahan baku yang fluktuatif.

Menurut dia, nilai ekonomi kelapa bisa meningkat berkali lipat bila diolah menjadi produk turunan seperti minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), bahan pangan olahan, hingga produk lain yang memiliki pasar lebih luas.

“Kelapa tidak seharusnya berhenti sebagai komoditas bahan baku. Ada banyak peluang nilai tambah yang bisa diciptakan melalui pengolahan produk turunan. Di situlah hilirisasi menjadi penting agar petani juga bisa menikmati manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujar Patrik.

Pernyataan itu langsung memantik antusiasme peserta.

Sejumlah petani dan pelaku usaha mengajukan pertanyaan seputar peluang usaha olahan kelapa, strategi pemasaran, hingga cara agar komoditas kelapa di daerah mereka tak lagi dijual dengan harga murah sebagai bahan mentah.

Diskusi pun berkembang ke berbagai persoalan di lapangan, mulai dari akses benih unggul, teknik budidaya yang tepat, kebutuhan alat pengolahan, sampai tantangan membuka pasar untuk produk olahan.

Antusiasme itu menunjukkan bahwa kebutuhan petani saat ini tidak lagi sebatas cara meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana hasil panen bisa memberi keuntungan lebih besar.

Forum Temu Teknologi Kelapa di PENAS XVII menjadi gambaran bahwa petani mulai melihat komoditas kelapa bukan hanya sebagai hasil kebun, melainkan sebagai sumber usaha yang dapat dikembangkan dari hulu sampai hilir.

Pengolahan hasil, diversifikasi produk, dan penguatan rantai usaha menjadi topik yang kian penting di tengah tuntutan peningkatan kesejahteraan petani.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan arah pengembangan komoditas perkebunan yang didorong Kementerian Pertanian.

Penguatan sektor hulu melalui perbenihan dan budidaya tetap penting, tetapi tidak cukup jika tidak diikuti dengan hilirisasi yang mampu menciptakan nilai tambah.

Melalui forum seperti ini, petani didorong untuk tidak berhenti pada pola lama menjual hasil kebun apa adanya.

Sebaliknya, mereka diajak melihat peluang bahwa kelapa bisa menjadi komoditas dengan banyak turunan usaha, dari produk konsumsi, minyak, hingga bahan baku industri rumah tangga.

PENAS XVII sendiri tak hanya menjadi ajang pertemuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan, inovasi, dan strategi pengembangan usaha tani.

Selain gelar teknologi dan pameran produk unggulan, sejumlah temu teknis seperti Temu Teknologi Kelapa menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas petani.

Dengan tingginya partisipasi peserta, forum ini menunjukkan bahwa komoditas kelapa masih memiliki posisi penting dalam sektor perkebunan nasional.

Lebih dari itu, forum ini menegaskan bahwa masa depan kelapa tidak cukup bertumpu pada panen semata, melainkan pada kemampuan mengolah, memasarkan, dan menciptakan nilai tambah dari setiap hasil kebun.

Lewat Temu Teknologi Kelapa di PENAS XVII Gorontalo, pesan itu disampaikan dengan jelas, kelapa tak lagi cukup dijual mentah.

Jika dikelola dengan budidaya yang baik dan diikuti hilirisasi yang tepat, komoditas ini bisa menjadi sumber keuntungan yang jauh lebih besar bagi petani.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU