JAKARTA, Holopis.com – PTPN I mulai menanam sorgum di Lampung sebagai proyek percontohan bioetanol. Jika berhasil, arealnya ditargetkan meluas hingga 24.000 hektare.
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I mulai mengembangkan tanaman sorgum sebagai salah satu sumber bahan baku bioetanol nasional.
Langkah awal dilakukan melalui uji coba penanaman seluas 20 hektare di Lampung sebagai bagian dari dukungan terhadap program hilirisasi dan transisi energi yang dicanangkan pemerintah.
Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo mengatakan pengembangan sorgum masih berada pada tahap awal karena perusahaan belum memiliki pengalaman dalam membudidayakan komoditas tersebut.
Oleh karena itu, penanaman dilakukan dalam skala terbatas untuk mempelajari karakteristik tanaman sebelum diperluas.
“Sementara masih 20 hektare kita coba kembangkan di Lampung. Kita coba pelajari budidayanya seperti apa, karena PTPN I belum pernah tanam sorgum,” kata Aris dalam bincang bersama awak media di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Menurut Aris, pengembangan sorgum merupakan bagian dari penugasan yang diterima perusahaan untuk mendukung penyediaan bahan baku bioetanol.
Selain sorgum, PTPN I juga mendapat mandat mengembangkan singkong sebagai komoditas alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri energi terbarukan.
Lampung dipilih sebagai lokasi awal pengembangan karena dinilai memiliki potensi lahan yang sesuai serta dekat dengan rencana pembangunan rantai pasok industri bioetanol.
Dengan lokasi yang strategis, perusahaan berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai produktivitas dan kelayakan ekonomi komoditas tersebut.
Pada tahap awal ini, PTPN I akan melakukan berbagai kajian teknis, mulai dari pemilihan varietas yang paling cocok, teknik budidaya, produktivitas tanaman, pola pemeliharaan hingga sistem pascapanen.
Data tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah pengembangan berikutnya.
Aris menjelaskan pendekatan bertahap dipilih untuk meminimalkan risiko kegagalan produksi sekaligus memastikan investasi yang dilakukan berjalan efektif.
Menurutnya, pengembangan komoditas baru harus didukung oleh penguasaan teknologi dan pengalaman lapangan yang memadai.
“PTPN butuh belajar. Tapi nanti kalau PTPN sudah bisa menguasai komoditas ini mungkin bisa digas untuk pengembangannya sesuai dengan target pemerintah,” ujarnya.
Hasil dari uji coba seluas 20 hektare itu nantinya akan menjadi bahan evaluasi sebelum perusahaan memutuskan ekspansi ke skala yang lebih besar.
Jika performa tanaman dinilai baik dan sesuai dengan kebutuhan industri, pengembangan areal tanam akan dilakukan secara bertahap.
Sorgum dan singkong diproyeksikan menjadi sumber bahan baku bioetanol yang dapat digunakan sebagai campuran bensin dalam program energi terbarukan nasional.
Kehadiran kedua komoditas tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan bahan baku sehingga tidak hanya bergantung pada tebu.
Dalam program ini, PTPN I berperan sebagai penyedia bahan baku, sementara pengembangan industri pengolahan bioetanol dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri.
Skema tersebut diharapkan mampu mempercepat terciptanya ekosistem bioetanol nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Aris mengungkapkan pemerintah menargetkan pengembangan sorgum dalam skala besar apabila tahap awal berjalan sukses.
Bahkan, target yang disampaikan mencapai sekitar 24.000 hektare lahan tanam di masa mendatang.
“Pak Wamen Investasi targetnya sampai 24.000 hektare. Kan nggak main-main. Artinya memang PTPN harus membekali diri dulu,” kata Aris.
Menurutnya, target tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun sumber energi alternatif berbasis komoditas pertanian.
Namun, perusahaan harus memastikan kesiapan sumber daya manusia, teknologi, serta sistem budidaya sebelum melakukan percepatan pengembangan dalam skala besar.
PTPN I menilai pengembangan sorgum tidak hanya mendukung program energi bersih, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi daerah penghasil komoditas tersebut.
Jika program berhasil, perluasan lahan tanam dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi pedesaan, serta memperkuat rantai pasok industri bioetanol nasional.
Dengan dimulainya uji coba di Lampung, PTPN I kini bersiap mengumpulkan berbagai data teknis yang dibutuhkan untuk memastikan sorgum dapat menjadi salah satu komoditas andalan dalam mendukung target swasembada energi dan pengembangan bioetanol di Indonesia.


