Resep Bubur Suro Tradisi 1 Suro yang Sarat Makna dan Bawa Keberkahan

0 Shares

YOGYAKARTA, Holopis.comResep Bubur Suro kembali dicari menjelang 1 Suro. Hidangan tradisional ini bukan sekadar makanan, tetapi simbol syukur, doa, dan harapan keberkahan.

Bubur Suro menjadi salah satu hidangan tradisional yang selalu hadir dalam peringatan malam 1 Suro di berbagai daerah di tanah Jawa.

Sajian berbahan dasar beras dan aneka kacang-kacangan ini tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang gurih dan hangat, tetapi juga karena nilai filosofis yang melekat di dalamnya sebagai simbol rasa syukur, doa, dan harapan memasuki tahun baru Jawa.

Malam 1 Suro 2026 yang jatuh pada Selasa Wage, 16 Juni 2026, kembali menjadi momentum bagi sebagian masyarakat Jawa untuk melestarikan tradisi leluhur.

Selain melakukan tirakat, doa bersama, dan refleksi diri, sebagian keluarga juga masih memasak Bubur Suro sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan turun-temurun sejak masa Kesultanan Mataram.

Dalam budaya Jawa, Bubur Suro tidak hanya dipandang sebagai makanan biasa, tetapi sebagai simbol spiritual yang merepresentasikan perjalanan hidup manusia.

- Advertisement -

Sajian ini sering dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang diterima selama satu tahun terakhir, baik berupa kesehatan, rezeki, maupun keselamatan.

Ciri khas Bubur Suro adalah penggunaan beragam bahan pelengkap, terutama tujuh jenis kacang dalam beberapa tradisi.

Angka tujuh dipercaya melambangkan tujuh hari dalam satu pekan, yang menjadi pengingat agar manusia selalu bersyukur setiap hari tanpa henti.

Selain itu, keberagaman bahan dalam bubur juga dimaknai sebagai simbol kehidupan manusia yang penuh keberagaman namun tetap harus menyatu dalam harmoni.

Tradisi membagikan Bubur Suro kepada tetangga atau masyarakat sekitar juga mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong.

Dalam banyak daerah di Jawa, kegiatan ini menjadi momen mempererat hubungan sosial sekaligus memperkuat ikatan antarwarga.

Resep Bubur Suro

Bagi masyarakat yang ingin melestarikan tradisi ini di rumah, Bubur Suro dapat dibuat dengan bahan-bahan yang sederhana dan mudah ditemukan di pasar tradisional maupun modern.

Berikut resep Bubur Suro yang bisa dicoba:

Bahan Utama

– 200 gram beras putih, cuci bersih dan rendam sekitar 30 menit
– 2 sendok makan kacang tanah, rendam
– 2 sendok makan kacang kedelai, rendam
– 2 sendok makan kacang merah, rendam
– 1,5 liter air
– Garam secukupnya

Bahan Pelengkap

– Sayur lodeh atau sayur kare
– Perkedel daging atau kentang
– Emping melinjo
– Telur rebus, dipotong menjadi empat bagian
– Telur dadar iris tipis
– Jeruk bali
– Buah delima
– Daun kemangi segar

Cara Membuat

1. Masukkan beras yang telah direndam bersama kacang tanah, kedelai, dan kacang merah ke dalam panci besar.
2. Tuangkan air secukupnya, lalu tambahkan garam sesuai selera.
3. Masak dengan api sedang sambil terus diaduk perlahan agar tidak lengket di dasar panci.
4. Saat mulai mendidih, kecilkan api dan lanjutkan memasak hingga beras dan kacang menjadi lunak serta tekstur berubah menjadi bubur yang kental dan lembut.
5. Koreksi rasa, lalu angkat dan sajikan dalam mangkuk saji.
6. Tambahkan berbagai pelengkap seperti sayur lodeh, perkedel, emping, telur rebus, telur dadar, jeruk bali, delima, dan daun kemangi sesuai selera masing-masing daerah atau keluarga.

Filosofi Setiap Sajian

Bubur Suro memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya Jawa.

Setiap bahan yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap rasa, tetapi juga sebagai simbol kehidupan.

Beras melambangkan sumber kehidupan utama manusia, sementara kacang-kacangan menggambarkan keragaman rezeki yang datang dari berbagai arah.

Kehadiran sayur lodeh dan pelengkap lainnya mencerminkan keseimbangan hidup antara rasa, kebutuhan, dan kebersamaan.

Dalam konteks spiritual, Bubur Suro menjadi pengingat bahwa manusia harus selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dan tidak melupakan asal-usulnya.

Tips Bubur Suro Lebih Pulen

Untuk menghasilkan Bubur Suro yang sempurna, pemilihan bahan menjadi faktor penting.

Gunakan beras yang memiliki tekstur pulen agar bubur lebih lembut dan tidak mudah hancur saat dimasak.

Proses perendaman beras dan kacang-kacangan juga membantu mempercepat pematangan serta menghasilkan tekstur yang lebih halus.

Selama proses memasak, aduk bubur secara berkala untuk mencegah gosong di bagian bawah panci.

Gunakan api kecil hingga sedang agar panas merata dan bahan matang sempurna.

Jika tekstur terlalu kental, tambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga mencapai kekentalan yang diinginkan.

Selain itu, pelengkap Bubur Suro dapat disesuaikan dengan tradisi masing-masing daerah.

Tidak ada aturan baku, sehingga setiap keluarga dapat mengkreasikan sesuai selera tanpa menghilangkan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU