HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini menyisakan tanda tanya besar di kalangan pelaku pasar. Muncul indikasi kuat bahwa anjloknya mata uang garuda bukan disebabkan oleh penguatan Dolar AS secara global, melainkan akibat adanya aksi lego massal (sell-off) di mana aliran dananya dilarikan ke Singapura.
Analis keuangan sekaligus founder Astronacci International, Gema Goeyardi mengungkapkan adanya bau tidak wajar dari pergerakan modal keluar (capital outflow) ini. Setelah meneliti pergerakan indeks DXY (indeks yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap mata uang utama dunia), ia menemukan bahwa Dolar AS sebenarnya bergerak normal, namun Rupiah tertekan secara tidak proporsional.
“Rupiah turun bukan karena US Dollar menguat, tapi karena ada yang melakukan sell-off besar-besaran di Rupiah. Duitnya ke mana? Larinya ke Singapura Dolar,” ungkap Gema dalam pemaparannya di kanal YouTube Astronacci, dikutip Holopis.com, Kamis (11/6/2026).
Kejanggalan ini semakin terlihat ketika mata uang regional lainnya bergerak relatif stabil, bahkan Dolar Singapura cenderung menguat terhadap Dolar AS, sementara Rupiah justru melemah signifikan.
“Dolar tidak ada masalah, Rupiah melemah, Singapura menguat terhadap Dolar, dan Rupiah melemah signifikan terhadap Singapura. Artinya terjadi sell-off dan uangnya dipindah ke Singapura… Seluruh market itu normal-normal saja, tidak ada krisis. Hanya Indonesia yang di-sell off,” jelasnya menekankan keanehan tersebut.
Lebih lanjut, Gema membongkar data mengenai posisi Singapura dalam lanskap geopolitik dan ekonomi global. Berdasarkan data investasi langsung asing (FDI), Singapura telah melesat menjadi simpul utama aliran modal Amerika Serikat di Asia, bertindak sebagai hub atau “negara cangkang” bagi para elit global kapitalis.
“Ternyata Singapura adalah simpul utama modal Amerika di Asia. Ini adalah negara cangkangnya elit global,” papar Gema sembari membeberkan lonjakan peringkat Singapura sebagai tujuan modal AS global.
Dengan dominasi sektor keuangan dan asuransi pada FDI yang masuk ke Singapura, Gema menganalogikan wilayah tetangga tersebut layaknya basis militer keuangan raksasa yang posisinya sangat strategis untuk menekan stabilitas ekonomi Indonesia.
“Uang spekulasi yang buat ngacak-ngacak itu sudah parkir di Singapura. Maka hal ini sama dengan taruh kapal induk perang di Singapura untuk menghajar Indonesia dalam bentuk uang di financial market,” tegas Gema memberikan perumpamaan.
Kondisi ini, menurutnya, menempatkan Indonesia pada posisi yang rentan secara ekonomi, mengingat kendali atas indeks pasar saham dan rating pemeringkat obligasi internasional dipegang penuh oleh entitas luar.


