Habib Syakur Khawatir Kenaikan Pertamax Picu Daya Beli Anjlok, Kelas Menengah Terancam Hilang

0 Shares

JAKARTA – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, menyoroti dampak berantai yang berpotensi muncul jika harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax RON 92, mengalami kenaikan signifikan dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.

Menurut Habib Syakur, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berpotensi memukul daya beli masyarakat secara luas karena akan mendorong kenaikan biaya transportasi, distribusi logistik, hingga harga kebutuhan pokok.

“Yang paling perlu diwaspadai bukan hanya kenaikan harga BBM itu sendiri, tetapi efek dominonya terhadap ekonomi masyarakat. Ketika biaya transportasi naik, maka harga barang dan jasa juga akan ikut terdorong naik,” kata Habib Syakur dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa kelompok masyarakat kelas menengah (middle income trap) menjadi pihak yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut. Sebab, kelompok ini selama ini menjadi motor konsumsi domestik yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, apabila kenaikan biaya hidup tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat, maka kemampuan belanja rumah tangga akan terus menurun dan berpotensi menyeret banyak keluarga kelas menengah turun kelas.

“Jangan sampai kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional justru semakin tertekan. Kalau purchasing power atau daya beli mereka runtuh, dampaknya akan terasa ke seluruh sektor ekonomi,” ujarnya.

- Advertisement -

Habib Syakur menilai ancaman terhadap kelas menengah perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Ia mengingatkan bahwa berbagai lembaga ekonomi internasional selama beberapa tahun terakhir telah menyoroti fenomena melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan beban ekonomi tidak sepenuhnya ditanggung masyarakat.

“Kalau harga BBM naik terlalu tinggi, masyarakat akan mencari alternatif yang lebih murah. Akibatnya permintaan BBM tertentu bisa melonjak, antrean bertambah panjang, dan tekanan terhadap distribusi energi menjadi lebih besar,” tuturnya.

Ulama asal Malang Raya ini juga mengingatkan, bahwa kenaikan ongkos logistik akan berimbas langsung pada harga kebutuhan pokok di pasar. Kondisi tersebut berpotensi memperlemah konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Ketika harga-harga naik sementara pendapatan tetap, masyarakat akan mengurangi konsumsi. Kalau ini terjadi secara luas, ekonomi bisa melambat karena roda konsumsi tidak lagi bergerak optimal,” katanya.

Untuk itu, Habib Syakur meminta pemerintah menjaga keseimbangan antara kebutuhan fiskal negara dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

“Yang harus dijaga adalah keseimbangan. Negara tentu memiliki kebutuhan fiskal, tetapi masyarakat juga harus tetap memiliki ruang untuk bertahan dan berkembang. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru membuat kelas menengah semakin menyusut dan daya beli masyarakat melemah,” pungkasnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU