HOLOPIS.COM, BANDUNG – Terungkap! Persib masuk daftar hitam FIFA usai sengketa kontrak Daisuke Sato yang berujung transfer ban jelang musim baru.
Persib Bandung tengah menghadapi situasi yang cukup serius menjelang bergulirnya musim kompetisi 2026/2027.
Klub berjuluk Maung Bandung itu resmi masuk dalam FIFA Registration Ban List atau daftar klub yang dikenai larangan mendaftarkan pemain baru oleh FIFA.
Status tersebut mulai berlaku sejak 29 Mei 2026 dan tercantum dalam situs resmi FIFA dengan keterangan “Until Lifted”, yang berarti sanksi akan tetap berlaku hingga persoalan yang menjadi dasar hukuman berhasil diselesaikan.
Kabar ini langsung menjadi perhatian publik sepak bola Indonesia.
Pasalnya, sanksi tersebut datang hanya beberapa hari setelah Persib merayakan keberhasilan menjuarai Super League 2025/2026 sekaligus mencatat sejarah sebagai tim pertama yang mampu meraih gelar juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia selama tiga musim berturut-turut.
Selain itu, Persib juga diproyeksikan menjadi salah satu wakil Indonesia di ajang AFC Champions League (ACL) 2 musim 2026/2027 sehingga membutuhkan kesiapan skuad yang matang untuk bersaing di level Asia.
Masuknya Persib ke FIFA Registration Ban List membuat klub untuk sementara waktu tidak dapat mendaftarkan pemain baru, baik untuk tim senior maupun kelompok usia.
Larangan tersebut berpotensi menghambat aktivitas transfer yang tengah dipersiapkan manajemen menjelang musim baru.
Terlebih, sejumlah pemain asing Persib diketahui akan mengakhiri kontraknya dalam waktu dekat.
Dalam regulasi FIFA, klub yang masuk ke dalam Registration Ban List tidak diperkenankan melakukan registrasi pemain baru hingga seluruh kewajiban yang menjadi dasar sanksi dipenuhi dan mendapat persetujuan resmi dari FIFA.
Manajemen Klarifikasi
Awalnya, muncul berbagai spekulasi terkait penyebab hukuman tersebut.
Sebagian pihak menduga sanksi itu berkaitan dengan tunggakan gaji pemain atau masalah finansial lainnya.
Namun, manajemen Persib memastikan bahwa dugaan tersebut tidak benar.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menjelaskan bahwa kasus yang menjadi dasar sanksi FIFA tidak berkaitan dengan tunggakan gaji ataupun pengabaian hak-hak pemain.
Menurutnya, persoalan tersebut berasal dari sengketa administratif yang berkaitan dengan penyelesaian terminasi kontrak mantan pemain Persib, Daisuke Sato.
“Perlu kami jelaskan bahwa keputusan tersebut berasal dari satu perkara spesifik yang berkaitan dengan penyelesaian terminasi kontrak mantan pemain Persib, Daisuke Sato, pada tahun 2023,” ujar Adhitia dalam keterangan resminya.
Ia menegaskan bahwa kasus tersebut merupakan perkara yang berdiri sendiri dan tidak mencerminkan kondisi keuangan maupun komitmen Persib terhadap para pemainnya.
“Persoalan ini bukan terkait penunggakan gaji pemain ataupun bentuk pengabaian terhadap hak-hak pemain sebagaimana yang mungkin dipersepsikan oleh sebagian pihak,” lanjutnya.
Awal Mula Kasus
Untuk memahami akar persoalan yang kini berujung pada sanksi FIFA, kronologinya harus ditarik ke paruh kedua kompetisi Liga 1 musim 2023/2024.
Saat itu, Persib melakukan perombakan skuad dan mendatangkan kiper Tim Nasional Filipina, Kevin Ray Mendoza.
Kehadiran Mendoza menjadi bagian dari strategi tim dalam memperkuat sektor penjaga gawang.
Namun, kedatangan pemain tersebut juga berdampak pada komposisi kuota pemain asing ASEAN yang dimiliki Persib.
Pada saat bersamaan, Persib masih memiliki Daisuke Sato, pemain Timnas Filipina yang berposisi sebagai bek kiri.
Sebelumnya, Sato bahkan telah mendapatkan perpanjangan kontrak dari Persib hingga tahun 2025.
Dengan kontrak yang masih panjang, banyak pihak saat itu memperkirakan sang pemain akan tetap menjadi bagian penting skuad Maung Bandung.
Namun situasi berubah ketika kebutuhan tim mengharuskan adanya penyesuaian komposisi pemain asing.
Seiring berjalannya kompetisi, nama Daisuke Sato perlahan tidak lagi masuk ke dalam daftar pemain yang digunakan oleh tim pelatih.
Meski masih terikat kontrak dan tetap mengikuti sesi latihan bersama skuad utama, kesempatan bermain yang diperoleh Sato semakin terbatas.
Situasi itu membuat masa depan pemain yang pernah menjadi andalan lini belakang Persib mulai dipertanyakan.
Pada periode tersebut, Persib juga berupaya mencari solusi agar Sato tetap mendapatkan kesempatan bermain.
Salah satu opsi yang muncul adalah peminjaman ke klub lain.
Namun hingga waktu tertentu, belum ada klub yang bersedia menampung pemain tersebut dengan status pinjaman.
Kondisi itu membuat situasi semakin rumit karena Sato tetap terikat kontrak, tetapi tidak lagi menjadi bagian dari rencana utama tim.
Setelah melalui berbagai proses, hubungan kerja sama antara Persib dan Daisuke Sato akhirnya berakhir lebih cepat sebelum masa kontraknya habis.
Keputusan tersebut menjadi titik awal munculnya sengketa yang kemudian berkembang hingga masuk ke ranah FIFA.
Meski detail lengkap mengenai aspek administratif dalam penyelesaian kontrak tidak diungkap secara terbuka, kasus tersebut akhirnya menjadi dasar munculnya sanksi larangan registrasi pemain yang kini diterima Persib.
Setelah meninggalkan Bandung, Sato kembali ke Filipina dan melanjutkan karier profesionalnya bersama Davao Aguilas FC.
Menariknya, beberapa waktu setelah berpisah dengan Persib, Daisuke Sato sempat memberikan penjelasan terkait situasi yang dialaminya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada konflik pribadi dengan Kevin Ray Mendoza maupun pihak lain di dalam tim.
Menurut Sato, situasi yang terjadi merupakan bagian dari keputusan teknis yang diambil oleh pelatih dan manajemen tim.
“Jadi saya tidak ada masalah pribadi, hanya saja hal itu bisa terjadi dan bisa terjadi pada siapa saja,” kata Sato.
Ia juga menjelaskan bahwa keputusan tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan tim yang memilih mempertahankan posisi kiper asing.
“Pelatih lebih memilih posisi kiper, jadi bagi saya dan dia di antara kami, kami tidak punya masalah pribadi. Semuanya baik-baik saja,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hubungan Sato dengan rekan-rekan setimnya tetap berjalan baik meski harus mengakhiri kebersamaan dengan Persib lebih cepat dari yang direncanakan.
Selesaikan Kewajiban
Menanggapi munculnya sanksi FIFA, manajemen Persib memastikan bahwa mereka telah mengetahui proses perkara tersebut sejak awal dan kini tengah menyelesaikan seluruh kewajiban yang menjadi bagian dari keputusan FIFA.
Adhitia mengatakan pihak klub saat ini sedang menjalankan berbagai langkah administratif yang diperlukan agar kasus tersebut segera tuntas.
“Saat ini kami sedang menyelesaikan kewajiban yang menjadi bagian dari keputusan tersebut dan menindaklanjuti seluruh proses administratif yang diperlukan,” ujarnya.
Persib juga berencana segera mengajukan proses lanjutan kepada FIFA setelah seluruh kewajiban dipenuhi.
Langkah tersebut dilakukan agar status larangan registrasi pemain dapat ditinjau ulang dan dicabut secepat mungkin.
Persiapan Musim Baru
Meski mendapat sanksi dari FIFA, Persib menegaskan bahwa aktivitas klub tetap berjalan normal.
Manajemen memastikan kondisi internal tim tetap stabil dan berbagai agenda strategis yang telah disusun tidak mengalami perubahan signifikan.
Menurut Adhitia, sanksi tersebut tidak memengaruhi arah pengembangan klub secara keseluruhan.
“Situasi ini tidak memengaruhi stabilitas maupun arah pengembangan klub. Aktivitas operasional, persiapan tim, serta berbagai agenda strategis yang telah direncanakan tetap berjalan dengan baik dan sesuai target,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Persib tetap optimistis mampu menyelesaikan persoalan ini sebelum memasuki fase penting persiapan musim baru.
Meski demikian, status larangan registrasi pemain tetap menjadi perhatian besar bagi Bobotoh dan pengamat sepak bola nasional.
Pasalnya, Persib saat ini membutuhkan fleksibilitas dalam bursa transfer untuk mempertahankan kekuatan skuad sekaligus melakukan penyegaran tim.
Berdasarkan data kontrak pemain, sejumlah pemain asing Persib akan segera memasuki masa akhir kerja sama.
Nama-nama seperti Andrew Jung, Frans Putros, Layvin Kurzawa, dan Sergio Castel termasuk pemain yang kontraknya akan berakhir dalam waktu dekat.
Apabila sanksi FIFA belum dicabut hingga jendela transfer dibuka, Persib berpotensi menghadapi kendala dalam merekrut pemain baru untuk mengisi kebutuhan tim.
Situasi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri mengingat Persib tidak hanya dituntut mempertahankan dominasi di kompetisi domestik, tetapi juga harus bersaing di level Asia melalui ACL 2 musim depan.
Menurut catatan, Persib ternyata bukan satu-satunya klub Indonesia yang masuk dalam FIFA Registration Ban List.
Berdasarkan daftar yang dirilis FIFA, terdapat sejumlah klub Indonesia lain yang juga menerima sanksi serupa.
Klub-klub tersebut antara lain Persiwa Wamena, PSBS Biak, PSCS Cilacap, Kalteng Putra, PSM Makassar, Semen Padang, dan PSIS Semarang.
Meski alasan sanksi masing-masing klub berbeda, keberadaan sejumlah klub Indonesia dalam daftar tersebut menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap regulasi dan penyelesaian administrasi sesuai ketentuan FIFA.
Kini, perhatian publik tertuju pada langkah yang akan ditempuh Persib untuk menuntaskan kasus Daisuke Sato.
Jika seluruh kewajiban dapat segera diselesaikan, Maung Bandung berpeluang mendapatkan pencabutan sanksi dalam waktu dekat dan kembali leluasa bergerak di bursa transfer menjelang musim kompetisi 2026/2027.

