HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gunung Bromo belum benar-benar aman. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih menyisakan titik api hingga Minggu (9/8), dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 520 hektare.
Api yang pertama kali dilaporkan pada Senin (3/8) itu terus bergerak melintasi kawasan perbukitan dan padang rumput kering. Kondisi tersebut membuat akses wisata Gunung Bromo akhirnya ditutup total, sementara ratusan personel gabungan masih berjibaku dari darat dan udara untuk menghentikan pergerakan api.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama karena masih terdapat titik panas dan bara yang harus ditangani secara manual.
“Kendala kita saat ini memang keterbatasan alat manual. Ada titik panas yang masih tersisa, api kecil itu memang harus manual. Yang besar ditangani menggunakan helikopter,” ujar Emil, Minggu (9/8).
Api Pertama Muncul di Blok Bantengan
Kebakaran diketahui bermula dari Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Area tersebut bukan merupakan kawasan wisata utama dan diketahui menjadi salah satu jalur tradisional yang biasa dilalui masyarakat.
Pranata Humas Balai Besar TNBTS Endrip Wahyutama sebelumnya menyebut titik api terus meluas hingga memasuki wilayah lain. Pada Kamis (6/8), ia mengatakan kebakaran telah memasuki hari keempat dan wilayah Watugede, Kabupaten Probolinggo, menjadi salah satu area yang mengalami dampak cukup besar.
Titik awal kebakaran berada di jalur yang dikenal sebagai jalur terabasan masyarakat dari kawasan Jemplang menuju Desa Argosari, Kabupaten Lumajang. Jalur tersebut bukan akses wisata maupun jalur umum yang ramai dilalui.
Perkembangan api kemudian membuat petugas harus memperluas area pengawasan. Kondisi medan yang berupa perbukitan turut membuat penanganan kebakaran tidak mudah dilakukan.
Diduga Dipicu Aktivitas Manusia
Balai Besar TNBTS menduga kebakaran tidak bermula dari faktor alam. Sumber api diperkirakan berasal dari aktivitas manusia di wilayah perbukitan Blok Bantengan-Jantur.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan titik awal api berada di area punggungan perbukitan yang mengarah dari Bantengan menuju Argosari. Kawasan tersebut memang sesekali dilalui masyarakat yang menggunakan jalur tradisional menuju wilayah Ranu Pani.
Menurut Rudijanta, cuaca kering selama musim kemarau lebih berperan dalam mempercepat penyebaran api, bukan menjadi penyebab munculnya sumber api.
“Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam. Kalau cuaca itu kan membuat api membesar, merambat. Tetapi kalau sumber api bukan karena cuaca,” kata Rudijanta.
Api Mendekati Kawasan Wisata Puncak B29
Pergerakan api juga sempat mengarah ke kawasan wisata Puncak B29 di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Pada Jumat (7/8), kobaran api dilaporkan berjarak sekitar dua kilometer dari kawasan tersebut.
Petugas gabungan langsung melakukan penyekatan untuk memperlambat pergerakan api. BPBD Kabupaten Lumajang bersama TNI dan Polri turut dikerahkan untuk membantu proses pemadaman.
Upaya dari darat dilakukan menggunakan metode gebyok dengan ranting pohon serta jet shooter. Langkah tersebut digunakan terutama untuk menangani titik api yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Bromo Ditutup Total Sejak Sabtu Malam
Meluasnya kebakaran akhirnya membuat seluruh akses wisata Gunung Bromo ditutup. Balai Besar TNBTS memberlakukan penutupan mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Seluruh pintu masuk terdampak kebijakan tersebut, termasuk Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro.


