Fundamental Solid, Tapi Rupiah dan IHSG Babak Belur ‘Dihajar’ Elit Global?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia belakangan ini mengalami tekanan hebat dengan melemahnya nilai tukar Rupiah dan rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Uniknya, kondisi ini dinilai sebagai sebuah anomali besar karena terjadi di tengah indikator fundamental ekonomi domestik yang justru sedang dalam performa solid.

Analis keuangan sekaligus founder Astronacci International, Gema Goeyardi mengungkapkan adanya dugaan kuat bahwa pergerakan pasar saat ini tidak lagi mencerminkan kondisi riil bangsa, melainkan akibat adanya “permainan senyap” dari kekuatan ekonomi global.

“Sebenarnya ada sebuah asumsi yang makin hari makin nyata, it’s not about fundamental. Ini perang senyap yang terjadi. Rupiah dan IHSG dihajar habis-habisan di kala fundamental Indonesia terlihat bagus,” ujar Gema dalam pemaparannya di kanal YouTube Astronacci, dikutip Holopis.com, Kamis (11/6/2026) .

Dalam video yang sama, Gema memaparkan sejumlah indikator ekonomi utama Indonesia menunjukkan angka yang positif. Salah satunya yakni pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai 5,61%, tertinggi sejak 2021.

Selain itu, Inflasi juga masih terjaga di angka 3,08% dan berada dalam target Bank Indonesia (BI). Begitu pun dengan rasio utang pemerintah yang berada di posisi 40,75%, jauh di bawah batas aman undang-undang yang ditetapkan sebesar 60%.

Gema menilai, situasi pasar keuangan saat ini sangat tidak masuk akal jika disandingkan dengan deretan data positif tersebut.

- Advertisement -

“Dengan kondisi seperti ini, aneh rasanya kalau harga itu turunnya sampai seperti COVID, dan hanya satu-satunya Indonesia yang Rupiahnya hancur, pasar modalnya hancur, di tengah semuanya warnanya hijau,” tuturnya heran.

Menurut analisisnya, kejatuhan pasar keuangan domestik belakangan ini dipicu secara sistematis melalui sentimen negatif yang diciptakan oleh lembaga-lembaga keuangan dan pemeringkat internasional. Di antaranya melalui aksi pengurangan bobot indeks (downgrade) dan pencoretan belasan emiten saham Indonesia dari indeks global.

Gema menegaskan bahwa fenomena ini murni digerakkan oleh persepsi yang diciptakan oleh korporasi barat, bukan karena penurunan kinerja perusahaan di Indonesia.

“Penurunan ini bukan earnings-driven, ini adalah index-driven dan rating-driven. Ini kata kuncinya. Ini merupakan perang persepsi,” tegas Gema.

Ia juga menambahkan bahwa kekhawatiran berlebih yang berkembang di tengah masyarakat saat ini merupakan hasil dari ketakutan (fear) yang sengaja ditebarkan. Secara teori ekonomi, Indonesia dinilai masih jauh dari jurang resesi teknis maupun depresi.

“Apakah Indonesia sekarang sudah masuk krisis resesi sehingga Anda semua harus ketakutan harus menghujat pemerintah tiap hari sampai gila? No, secara teori secara fakta we are not in the recession,” pungkasnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU