HOLOPIS.COM, JAKARTA – Fenomena astronomi langka akan terjadi pada pekan ini, dimana posisi matahari akan berada tepat di atas Ka’bah yang menjadi kiblat bagi umat muslim di seluruh belahan dunia dalam melaksanakan ibadah salat.
Fenomena ini dikenal sebagai rashdul kiblat, yakni kondisi ketika posisi Matahari sejajar tepat di atas Ka’bah sehingga arah bayangan benda tegak lurus di permukaan bumi otomatis menunjukkan arah kiblat secara presisi.
Dilansir dari unggahan di akun Instagram resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena matahari di atas ka’bah ini berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada 27-29 Mei dan 15-17 Juli 2026.
Puncaknya pada tanggal 28 Mei 2026 pukul 16.18 WIB. Kemudian tanggal 16 Juli 2026, pukul 16.27 WIB.
Sementara untuk wilayah Indonesia bagian Timur dan juga sebagian Indonesia Tengah bagian Timur, penentuan arah kiblatnya dapat dilakukan saat Matahari di atas di antipoda Kabah (sebalik arah Kabah).
Posisi antipoda Ka’bah ini disebut BMKG terjadi setiap 14 Januari pukul 06.30 WIT dan 29 November pukul 06.09 WIT.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan pengecekan arah kiblat disarankan menyiapkan alat sederhana, seperti tongkat atau tiang tegak lurus terhadap permukaan datar, jam yang presisi dengan waktu BMKG, serta kompas dan GPS.
Proses kalibrasi dimulai sekitar lima menit sebelum waktu puncak fenomena berlangsung. Setelah itu, masyarakat cukup memperhatikan arah bayangan yang muncul tepat saat Matahari berada di atas Ka’bah.
Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju posisi alat tegak lurus tersebut merupakan arah kiblat yang telah terkalibrasi secara astronomis.
Agar hasil pengamatan akurat, terdapat beberapa syarat yang perlu diperhatikan, antara lain cuaca harus cerah tanpa awan, permukaan pengamatan dalam kondisi datar, serta area pengamatan bebas dari bayangan benda lain.

