HOLOPIS.COM, JAKARTA – Iran membantah anggapan bahwa kesepakatan besar dengan Amerika Serikat (AS) akan segera tercapai. Pernyataan Iran berbeda dengan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengklaim proses negosiasi hampir rampung.
Teheran menilai masih banyak persoalan krusial yang belum terselesaikan. Hal itu termasuk sikap Washington yang dinilai berubah-ubah serta campur tangan Israel dalam pembahasan regional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menjelaskan pembicaraan telah menghasilkan kemajuan dalam sejumlah isu utama. Namun, ia menegaskan belum ada pihak yang bisa memastikan kesepakatan final akan segera ditandatangani.
“Memang benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang dibahas. Tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan perjanjian akan segera terjadi, tidak ada yang dapat mengklaim hal seperti itu,” kata Baghaei dalam konferensi pers mingguan Kementerian Luar Negeri Iran dikutip pada Selasa, (26/5/2026).
Menurut Baghaei, salah satu persoalan penting yang masih dibahas adalah masa depan Selat Hormuz. Akses jalur pelayaran strategis dunia itu jadi pusat perhatian internasional di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Ia menyampaikan pengelolaan Selat Hormuz harus diputuskan bersama oleh Oman dan Iran. Baghaei juga membantah tudingan bahwa Iran ingin memberlakukan pungutan terhadap kapal yang melintas.
“Yang diusulkan bukanlah pungutan tol, melainkan biaya untuk layanan navigasi,” ujarnya.
Iran juga menuntut agar gencatan senjata di Lebanon dimasukkan dalam nota kesepahaman yang tengah dirancang. Kesepakatan itu nanti akan jadi dasar bagi Iran untuk membuka kembali akses pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Hal itu ditambah dengan imbalan pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran oleh AS.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tetap optimistis kesepakatan bisa dicapai dalam waktu dekat. Namun, ia mengakui masih ada sejumlah persoalan besar yang belum menemukan titik temu.
“Kita akan mendapatkan kesepakatan yang baik atau kita akan menangani masalah ini dengan cara lain, dan kita lebih memilih untuk mendapatkan kesepakatan yang baik,” kata Rubio saat berbicara kepada wartawan di New Delhi.
Rubio menyebut terdapat proposal konkret terkait pembukaan Selat Hormuz dan dimulainya kembali negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran.
“Ada hal yang cukup solid di atas meja dalam hal kemampuan mereka untuk membuka Selat Hormuz, membuka selat tersebut, memasuki negosiasi yang sangat nyata, signifikan, dan terbatas waktu tentang masalah nuklir, dan mudah-mudahan kita dapat mewujudkannya,” ujarnya.
Dalam skema yang sedang dibahas, akses penuh ke Selat Hormuz disebut akan dipulihkan dalam waktu 30 hari setelah tercapainya kesepakatan penghentian permusuhan antara kedua negara.
Iran disebut akan menggunakan masa 30 hari pasca-gencatan senjata untuk membersihkan ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut. Informasi itu sebelumnya dilaporkan dengan mengutip sumber diplomatik Timur Tengah kepada media Jepang Nikkei.
Sementara itu, Donald Trump kembali menekan Iran lewat pernyataan keras di platform Truth Social. Ia menegaskan kesepakatan hanya akan terjadi jika menghasilkan hasil besar bagi AS dan kawasan.
“Kesepakatan itu akan hebat dan bermakna, atau tidak akan ada kesepakatan sama sekali,” tulis Trump.
Tak hanya itu, Trump juga mendorong perluasan Kesepakatan Abraham dengan mengajak sejumlah negara Timur Tengah untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Negara-negara yang disebut Trump antara lain Qatar, Arab Saudi, Pakistan, Mesir, Yordania, Turki, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
“Saya dengan tegas meminta agar semua Negara segera menandatangani Kesepakatan Abraham, dan bahwa, jika Iran menandatangani Perjanjiannya dengan saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, akan menjadi suatu kehormatan bagi saya untuk menjadikan mereka juga bagian dari Koalisi Dunia yang tak tertandingi ini,” tulis Trump.
Namun, usulan Trump justru menuai respons dingin. Barbara Leaf, mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Timur Dekat, menilai gagasan Trump sulit diwujudkan.
“Cukup dikatakan bahwa tidak ada yang berminat di antara mereka yang bukan bagian dari kesepakatan Abraham untuk bergabung dengan perjanjian itu. Anda tidak akan bisa mengajak Turki, Qatar, dan Arab Saudi untuk melakukannya. Sama sekali tidak,” katanya.
Ia bahkan menyebut proposal Trump disambut dengan keheningan yang mengejutkan oleh para pemimpin regional saat pembicaraan via telepon akhir pekan lalu.
Penolakan juga datang dari Israel. Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menilai perluasan Kesepakatan Abraham tidak akan membuat rancangan kesepakatan baru dengan Iran menjadi lebih dapat diterima oleh Israel.
Lapid menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang mengganggu dan buruk bagi kawasan. Ia juga mengkritik pemerintah Israel yang dianggap kehilangan pengaruh terhadap kebijakan Washington.
Menurutnya, pemerintah Israel kini berada pada titik terendah sepanjang masa dalam kemampuannya untuk memengaruhi keputusan di Washington.

