HOLOPIS.COM, JAKARTA – Badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan kekurangan pendanaan bantuan untuk Gaza mulai berdampak serius terhadap layanan kemanusiaan di wilayah tersebut. Kondisi itu membuat jutaan warga Gaza yang masih mengungsi menghadapi situasi yang semakin sulit, termasuk krisis air bersih, makanan, hingga layanan kesehatan dan sanitasi.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut hingga hampir pertengahan 2026, pendanaan sebesar 4,1 miliar dolar AS yang dibutuhkan untuk Gaza dan Tepi Barat baru terpenuhi kurang dari 15 persen.
Akibat minimnya dana, kemampuan organisasi kemanusiaan untuk merencanakan dan menyalurkan bantuan disebut semakin melemah.
“Sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi dan sangat bergantung pada layanan kemanusiaan,” kata OCHA dalam laporan hariannya pada Kamis (4/6), dikutip Holopis.com.
OCHA juga mengungkap empat mitra kemanusiaan mereka mulai menghentikan secara bertahap distribusi air menggunakan truk tangki sejak akhir Mei akibat kekurangan dana. Situasi tersebut membuat lebih dari 330.000 warga di sekitar 250 lokasi terancam kehilangan sumber utama air minum mereka.
UNICEF turut memperingatkan banyak keluarga di Gaza kini terpaksa memilih antara menggunakan air untuk diminum atau menjaga kebersihan demi mencegah penyebaran penyakit. Selain krisis air, jumlah makanan yang dibagikan kepada warga Gaza juga mengalami penurunan drastis.
Menurut OCHA, bantuan makanan kini hanya mencapai sekitar 678.000 porsi per hari, turun jauh dibanding pertengahan Maret yang sempat mencapai 1,5 juta porsi per hari.
Beberapa layanan lain yang ikut terdampak meliputi pemulihan sektor pertanian, pendidikan, pengelolaan lokasi pengungsian, hingga ruang aman untuk perempuan dan anak perempuan.
“Semakin banyak layanan akan terhenti tanpa adanya pendanaan tambahan,” ujar OCHA.
Karena itu, badan kemanusiaan PBB mendesak negara-negara donor segera meningkatkan dukungan mereka untuk Gaza. PBB juga meminta negara anggota mendorong penghapusan pembatasan yang diterapkan Israel terhadap distribusi bantuan kemanusiaan.
Sementara itu di Tepi Barat, OCHA melaporkan puluhan keluarga Palestina terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat intimidasi dan kekerasan dari pemukim Israel.
Sebanyak 27 keluarga penggembala di kawasan Ein Fera’a, Hebron, dilaporkan mengungsi setelah pemukim Israel mengambil alih bukit di sekitar wilayah tersebut. Komunitas yang terdiri dari 125 orang itu mencakup anak-anak, penyandang disabilitas, hingga penderita penyakit kronis.
UNICEF disebut telah menyalurkan bantuan berupa perlengkapan bayi, kebutuhan kebersihan, hingga perlengkapan hiburan untuk anak-anak.
Menurut OCHA, komunitas tersebut menjadi kelompok Palestina ke-46 yang seluruh warganya terpaksa mengungsi sejak Januari 2023 akibat kekerasan pemukim dan pembatasan akses. Secara keseluruhan, lebih dari 6.000 warga Palestina dilaporkan mengungsi sejak Januari 2023, termasuk lebih dari 2.000 orang hanya sepanjang 2026.

