HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bencana banjir hingga angin kencang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Utara selama beberapa hari terakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, kejadian pertama terjadi di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara pada Jumat (5/6).
“Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di beberapa wilayah dan berdampak pada 2.183 kepala keluarga atau 6.860 jiwa, serta mengakibatkan 1.992 unit rumah terdampak,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Sabtu (6/6).
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kwala Bekala di Kecamatan Medan Johor; Kelurahan Beringin di Kecamatan Medan Selayang; Kelurahan Aur dan Sei Mati di Kecamatan Medan Maimun; serta Kelurahan Besar di Kecamatan Labuhan.
“Banjir dilaporkan telah berangsur surut dan warga mulai melakukan pembersihan lingkungan,” ujarnya.
Bencana alam lainnya yakni cuaca ekstrem juga terjadi di Kota Medan pada hari yang bersamaan. Kejadian yang melanda Kecamatan Medan Denai tersebut berdampak pada 13 kepala keluarga atau 47 jiwa dan menyebabkan 13 unit rumah terdampak.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Binjai, Harjosari II, dan Medan Tenggara di Kecamatan Medan Denai.
“Upaya penanganan masih berlangsung antara petugas bersama warga,” imbuhnya.
Peristiwa bencana berikutnya terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras disertai petir dan angin kencang mengakibatkan 20 unit rumah mengalami rusak berat serta 20 kepala keluarga terdampak.
Lokasi kejadian meliputi Desa Sei Sijenggi, Melati II, Pematang Sijonam, Jambur Pulau, Cinta Air, Lubuk Cemara, Kelurahan Tualang dan Kota Galuh di Kecamatan Perbaungan, serta Desa Simpang Empat di Kecamatan Sei Rampah.
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Di sisi lain, beberapa wilayah mulai memasuki musim kemarau yang meningkatkan potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Abdul mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan.
“Pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapan personel, peralatan dan langkah mitigasi, sementara masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca, menghindari aktivitas pembakaran lahan, serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan potensi ancaman bencana di wilayahnya,” imbaunya.
“Kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respons cepat seluruh unsur menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, relawan, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan, penanganan darurat, dan percepatan pemulihan sehingga keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” jelasnya.

