HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap berhati-hati dalam menjalani perundingan dengan Amerika Serikat di tengah upaya menjaga kepentingan nasional negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat menerima kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir di Teheran pada Sabtu (23/5).
Menurut pernyataan resmi kepresidenan Iran, Pezeshkian menyinggung berbagai faktor yang membuat tingkat kepercayaan publik Iran terhadap Washington semakin rendah. Ia menyebut pelanggaran komitmen berulang oleh AS, serangan terhadap Iran saat proses negosiasi berlangsung, hingga pembunuhan terhadap pejabat Iran sebagai alasan utama.
Dalam kondisi tersebut, Iran disebut tetap membuka jalur diplomasi dengan dukungan negara-negara sahabat, termasuk Pakistan.
“Kami hanya berupaya melindungi hak-hak rakyat kami yang sah dan sesuai hukum,” ujar Pezeshkian, dikutip Holopis.com, Minggu (24/5).
“Namun sejarah dan pengalaman kami dalam berunding dengan AS mendorong kami untuk bersikap sangat berhati-hati,” lanjutnya.
Pezeshkian juga menegaskan perang tidak pernah membawa keuntungan bagi siapa pun dan hanya akan merugikan kawasan maupun dunia secara luas.
Sementara itu, Asim Munir kembali menegaskan dukungan Pakistan terhadap stabilitas kawasan dan berharap perundingan yang berlangsung dapat menghasilkan solusi positif bagi Iran serta negara-negara di Timur Tengah.
Iran Disebut Tetap Bersikeras soal Program Nuklir
Secara terpisah, kantor berita semiresmi Iran, Fars, melaporkan bahwa perundingan damai antara Iran dan AS terancam gagal jika Washington tidak menunjukkan fleksibilitas.
Laporan tersebut menyebut Iran masih bersikeras tidak membahas program nuklirnya pada tahap saat ini. Teheran juga meminta aset-aset Iran yang dibekukan lebih dulu dilepaskan sebelum perundingan dilanjutkan.
Selain itu, Iran disebut tetap ingin mempertahankan kontrol penuh atas Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Menurut sumber yang dikutip Fars, tidak akan ada kelanjutan negosiasi jika tiga isu utama tersebut belum menemukan titik temu.
Iran, AS, dan Israel sebelumnya mencapai gencatan senjata pada 8 April setelah konflik selama 40 hari yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Setelah gencatan senjata diberlakukan, delegasi Iran dan AS sempat menggelar perundingan damai di Islamabad, Pakistan, pada 11 hingga 12 April. Namun pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan final.
Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara dilaporkan terus saling bertukar proposal terkait syarat-syarat penghentian konflik melalui mediasi Pakistan.


