Tren “Quiet Luxury” Anak Muda Indonesia, Gaya Old Money di Tengah Realita Ekonomi

3 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Belakangan ini, media sosial Indonesia diramaikan dengan tren “quiet luxury” yang banyak diadopsi anak muda. Gaya ini menonjolkan kesan mewah tanpa logo besar, sederhana, elegan, dan identik dengan estetika “old money”.

Namun di balik tren yang terlihat estetik di Instagram dan TikTok, muncul diskusi lain seberapa realistis gaya hidup ini di tengah kondisi ekonomi anak muda saat ini?

Quiet luxury merujuk pada gaya berpakaian dan lifestyle yang tidak mencolok, namun menggunakan barang berkualitas tinggi. Ciri khasnya adalah warna netral, potongan rapi, dan minim branding.

Brand global seperti Loro Piana, The Row, hingga Brunello Cucinelli sering diasosiasikan dengan gaya ini karena menonjolkan kesederhanaan premium.

Di Indonesia, tren ini banyak diadaptasi dengan versi “budget version”, seperti outfit polos, kemeja clean look, hingga tas tanpa logo mencolok.

Viral di TikTok, Tapi Tidak Semua Bisa Ikut

Tagar seperti #quietluxury dan #oldmoneyaesthetic semakin ramai di TikTok. Banyak konten kreator menampilkan gaya hidup seolah berasal dari keluarga mapan: nongkrong di kafe minimalis, outfit monokrom, hingga mobil simpel namun elegan.

- Advertisement -

Namun di kolom komentar, banyak netizen menyoroti bahwa tren ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata.

“Kelihatannya old money, tapi gaji baru UMR,” tulis salah satu komentar yang ramai disukai.

Antara Estetika dan Realita Ekonomi

Di satu sisi, tren ini dianggap sebagai bentuk aspirasi gaya hidup modern anak muda yang ingin tampil rapi dan minimalis tanpa harus “flexing”.

Namun di sisi lain, sebagian pengamat gaya hidup menilai tren ini mencerminkan tekanan sosial media, di mana penampilan sering kali harus terlihat lebih “mapan” dari kondisi sebenarnya.

Kondisi ekonomi seperti biaya hidup yang meningkat, harga properti yang tinggi, serta persaingan kerja membuat banyak anak muda harus menyesuaikan prioritas keuangan mereka.

Dari “Flexing” ke “Silent Wealth”

Menariknya, tren ini muncul setelah era “flexing” yang menampilkan kemewahan secara terbuka mulai mendapat kritik. Quiet luxury hadir sebagai kebalikannya tidak perlu pamer, yang penting terlihat “berkelas”.

Namun pada praktiknya, garis antara estetika dan realita sering kali menjadi kabur di media sosial.

Tren quiet luxury menunjukkan perubahan cara anak muda Indonesia mengekspresikan diri. Di satu sisi, ini adalah bentuk gaya hidup minimalis yang elegan.

Namun di sisi lain, ia juga menjadi cermin bagaimana standar “kemewahan” kini ikut dibentuk oleh media sosial, bukan hanya kondisi ekonomi nyata.

Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan besar: apakah quiet luxury benar-benar gaya hidup, atau hanya ilusi estetika di era digital?

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Ronalds Petrus Gerson
Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU