HOLOPIS.COM, JAKARTA – Status tanggap darurat akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diperpanjang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, perpanjangan status darurat dilakukan guna mengoptimalisasi masa pemulihan dan perlindungan warga terdampak.
“Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur masih terus dipantau. Status tanggap darurat akibat erupsi gunung api tersebut telah diperpanjang dan berlaku hingga Selasa 30 Juni,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Kamis (21/9).
Abdul menjelaskan bahwa keputusan perpanjangan pemantauan dan penanganan kedaruratan ini diambil berdasarkan rekomendasi teknis mengenai aktivitas vulkanik gunung api tersebut yang masih fluktuatif.
Abdul menjelaskan bahwa dengan perpanjangan status tanggap darurat ini memberikan payung hukum bagi pemerintah melalui serta instansi terkait untuk terus mengerahkan sumber daya, logistik, dan personel di lapangan secara optimal.
Langkah ini juga diambil guna memastikan seluruh kebutuhan dasar para pengungsi di posko-posko penampungan tetap terpenuhi secara berkala selama ancaman bahaya sekunder berupa guguran lava maupun pembuangan abu vulkanik masih berpotensi terjadi.
Abdul kemudian mengimbau masyarakat di sekitar lereng Gunung Lewotobi Laki-laki serta para wisatawan untuk tetap mematuhi rekomendasi radius aman yang telah ditetapkan oleh petugas di lapangan.
Sebelumnya Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan kenaikan status aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki dari Waspada menjadi Siaga atau level III, Selasa (12/5).
Kenaikan status tersebut berdasarkan hasil analisis visual dan instrumental yang menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan.
Tim ahli Badan Geologi melaporkan pada periode 1-11 Mei 2026 aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki didominasi gempa vulkanik dalam yang mencapai 21 hingga 32 kejadian per hari, terutama pada 1-4 Mei 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya suplai magma atau fluida magmatik yang cukup kuat menuju sistem gunung api.
Selain itu aktivitas tremor non-harmonik juga terekam dalam jumlah tinggi dan relatif persisten dengan kisaran 17-27 kejadian per hari.
Berdasarkan kondisi tersebut, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Masyarakat di sekitar daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat, terutama di wilayah Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen. Selain itu warga terdampak hujan abu diimbau menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan


