JAKARTA – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea melayangkan protes keras terhadap tim media mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. Protes ini dipicu oleh pemanfaatan kembali video-video lama Hotman Paris saat masih menjabat sebagai kuasa hukum Nadiem sekitar 5 hingga 6 bulan lalu, yang kini diduga digoreng demi menarik simpati publik.
Hotman menegaskan, narasi yang dibangun oleh tim media Nadiem saat ini yang menyebut dirinya “menantang” Presiden Prabowo Subianto adalah sebuah kebohongan besar.
“Tim media Nadiem sekarang ini memakai istilah Hotman menantang Prabowo, itu tidak benar. Saya tidak pernah menantang Prabowo. Saya waktu itu minta ketemu sama beliau sebagai sahabat saya, klien saya. Dia sangat percaya sama opini hukum saya, makanya saya berusaha untuk ketemu,” tegas Hotman Paris melalui keterangan resminya.
Hotman menyayangkan video masa lalunya saat berjuang melobi Presiden tetap dipakai, padahal statusnya kini sudah bukan lagi kuasa hukum Nadiem. “Tim media jangan pakai video itu lagi dong, aku kan bukan kuasa hukumnya lagi,” imbuhnya.
Bongkar Kejanggalan Dua Audit BPK Terkait Proyek Chromebook
Tak hanya soal video, Hotman Paris juga blak-blakan membongkar kejanggalan dalam penanganan kasus hukum proyek pengadaan Chromebook yang menjerat Nadiem Makarim. Hotman menyindir pihak Nadiem yang dianggap “pelit” dalam menggunakan jasa hukum pengacara berpengalaman, sehingga poin-poin krusial yang sudah ia siapkan justru tidak diperjuangkan di pengadilan.
Hotman mengungkapkan, di awal kasus, dirinya telah mengantongi dua dokumen audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun buku 2020-2022 yang menyatakan bahwa harga pengadaan Chromebook adalah wajar dan tidak ada unsur kerugian negara. Bahkan, BPK telah menyurat resmi untuk membenarkan keaslian dokumen tersebut.
Namun anehnya, dalam persidangan justru muncul audit BPK baru dengan hasil yang bertolak belakang, menyatakan harga tidak wajar dan ada kerugian negara.
“Angka kan mana mungkin beda, sama-sama Chromebook. Kenapa dua audit BPK yang dulu dan sekarang atas proyek yang sama dari Nadiem ini berbeda? Saya herannya lagi, kenapa tim (hukum) dari Nadiem tidak mempersoalkan ini di pengadilan?” cecar Hotman heran.
Singgung Dugaan Sengkarut Kerugian Telkom Rp4 Triliun di Saham Gojek
Di akhir pernyataannya, Hotman melemparkan sebuah pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab di publik terkait motif asli di balik kasus yang menimpa Nadiem Makarim. Ia menyinggung adanya potensi korelasi dengan kerugian besar yang dialami PT Telkom Indonesia.
“Apakah benar kasus ini ada kaitannya dengan kerugian Telkom Rp4 triliun lebih waktu membeli saham Gojek? Waktu IPO harganya Rp300 per lembar, tahu-tahu setelah beli dua bulan turun menjadi Rp50 perak, sehingga katanya Telkom rugi dan pemerintah marah. Apakah itu motivasi di belakang kasus ini, saya tidak tahu,” ungkapnya menduga-duga.

“Yang mungkin akan menyesal, makanya lain kali jangan pelit-pelit sama pengacara. Pengacara mahal itu memang mahal, pengacara berbobot itu mahal ya. Pengacara berpengalaman yang sudah benar-benar terbukti puluhan tahun memang mahal, jadi jangan pelit-pelit,” pungkas Hotman menyindir.
Diketahui, saat masih menjadi kuasa hukum Nadiem Makarim, pengacara kondang Hotman Paris sempat membuat video yang secara mengejutkan meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menggelar perkara kasus Nadiem Makarim secara terbuka di Istana Negara.
Hotman mengklaim mampu membuktikan Nadiem tidak bersalah dalam waktu singkat dengan membeberkan fakta bahwa sang mantan menteri tidak menerima uang sepeser pun.
Selain itu, ia menegaskan tidak ada praktik mark-up maupun pihak yang diperkaya dalam proyek pengadaan Chromebook yang kini menjerat Nadiem dengan tuntutan 18 tahun penjara.
Banyak pihak kini takut fakta terungkap jika benar terdapat kekeliruan dalam konstruksi hukum kasus triliunan rupiah ini sebagaimana yang dituduhkan Hotman.

